KJN, Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat stok awal beras nasional pada 2026 mencapai 12,529 juta ton, melonjak tajam dibandingkan dua tahun sebelumnya. Capaian ini menjadi sinyal kuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan sebagian besar stok tersebut berasal dari sisa persediaan tahun sebelumnya (carry over stock). Menurutnya, angka ini mencerminkan produksi beras dalam negeri yang mampu mencukupi kebutuhan nasional.
“Stok awal beras tahun 2026 ini menjadi bukti bahwa produksi beras nasional cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Ketut, Sabtu (3/1/2026).
Dari total stok nasional tersebut, sebanyak 3,248 juta ton tercatat sebagai Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog. Sementara itu, sisanya tersebar di tingkat rumah tangga, penggilingan padi, pedagang, serta sektor hotel, restoran, dan katering.
Ketut menegaskan, seluruh stok beras sepanjang 2025 murni berasal dari produksi dalam negeri, tanpa adanya impor beras sama sekali. Hal ini, kata dia, menunjukkan keberhasilan kebijakan pangan nasional sekaligus menjadi bentuk nyata dukungan terhadap petani.
“Ini mencerminkan kemandirian pangan Indonesia dan keberhasilan para petani dalam menjaga pasokan beras nasional,” jelasnya.
Data Bapanas juga menunjukkan lonjakan signifikan stok beras nasional. Dibandingkan tahun 2024 yang hanya 4,134 juta ton, stok awal 2026 meningkat hingga 203 persen. Sementara jika dibandingkan dengan stok awal 2025 sebesar 8,402 juta ton, terjadi kenaikan sekitar 49 persen.
Dengan ketersediaan stok yang melimpah tersebut, pemerintah memastikan tidak akan melakukan impor beras konsumsi maupun beras untuk kebutuhan industri pada 2026. Kebijakan ini sejalan dengan langkah pemerintah pada 2025 dan sekaligus menjadi upaya menjaga harga gabah serta kesejahteraan petani.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pelaku usaha untuk memaksimalkan penggunaan bahan baku lokal, seperti beras pecah dan beras ketan pecah, guna memenuhi kebutuhan industri pangan.
“Dengan ketersediaan beras yang kuat ini, Indonesia siap menghadapi kebutuhan pangan sepanjang 2026,” pungkas Ketut.
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar