KJN, Jakarta – Ponsel konvensional diprediksi mulai kehilangan pamor pada 2026. Kenaikan harga perangkat elektronik akibat kelangkaan memori chip, tanpa diimbangi peningkatan kualitas signifikan, dinilai bakal menekan minat beli konsumen secara global.
Para analis yang dikutip Financial Times memperkirakan harga komponen elektronik akan melonjak, sehingga harga ritel perangkat seperti komputer, ponsel, dan peralatan rumah tangga bisa naik hingga 20 persen. Kondisi ini berpotensi memperpanjang siklus penggantian perangkat, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Lembaga riset International Data Corporation (IDC) memproyeksikan pasar ponsel global berisiko terkontraksi pada 2026. Dalam skenario pesimistis, penurunan pasar bisa mencapai 5 persen, seiring meningkatnya harga jual rata-rata dan kecenderungan konsumen menggunakan ponsel lebih lama.
IDC juga mencatat bahwa pengapalan ponsel konvensional atau non-foldable diperkirakan turun 1,4 persen pada 2026. Sebaliknya, segmen ponsel lipat justru diprediksi tumbuh pesat hingga 29,7 persen pada tahun yang sama.
Lonjakan ini didorong oleh hadirnya inovasi baru, termasuk kemunculan iPhone lipat pertama yang telah lama dinantikan, serta peluncuran Samsung Galaxy Z TriFold yang memperkenalkan konsep ponsel lipat tiga ke pasar global.
“Tahun 2026 akan menjadi periode yang sangat bergairah untuk kategori ponsel lipat, dengan pertumbuhan tahunan hampir 30 persen, jauh di atas proyeksi sebelumnya,” ujar Nabila Popal, Direktur Riset Senior IDC.
Menurutnya, Samsung akan membuka 2026 dengan Galaxy Z TriFold dan melanjutkan momentum dari kesuksesan Galaxy Z Fold7 pada 2025. Sementara itu, ponsel lipat Huawei berbasis HarmonyOS Next juga diperkirakan mencatat pertumbuhan kuat, dengan volume pengapalan hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
“Namun, game changer terbesar akan hadir di akhir 2026 ketika Apple resmi masuk ke segmen ponsel lipat,” tambah Nabila.
Senada, Francisco Jeronimo, Vice President Client Devices IDC, menyebut kehadiran ponsel lipat Apple akan menjadi babak baru bagi industri.
“Apple biasanya bertindak sebagai katalis adopsi produk baru di pasar mainstream. Meski volume ponsel lipat tetap lebih kecil dibanding ponsel standar, segmen ini akan menjadi pendorong nilai utama karena harga jual rata-ratanya bisa tiga kali lebih tinggi,” jelasnya.
IDC memperkirakan kategori ponsel lipat akan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 17 persen hingga 2029, jauh melampaui pertumbuhan ponsel konvensional yang diproyeksikan kurang dari 1 persen.
Dari sisi sistem operasi, Android diperkirakan masih mendominasi pasar ponsel lipat pada 2026 dengan pangsa 61 persen, disusul Apple sebesar 22 persen, dan HarmonyOS Next sekitar 17 persen.
Meski demikian, IDC mengingatkan bahwa proyeksi tersebut masih dapat berubah, seiring dinamika pasar global dan perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar