Permintaan Program MBG Dongkrak Harga Ayam, Peternak Nikmati Margin Positif

waktu baca 3 menit
Sabtu, 14 Feb 2026 18:51 137 Admin

Jakarta, KJ-News.com – Harga ayam ras di tingkat peternak menunjukkan tren menguat dalam beberapa waktu terakhir, didorong peningkatan permintaan pasar serta penyerapan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini membuat posisi harga berada di atas biaya pokok produksi (BPP), sehingga peternak mulai menikmati keuntungan yang lebih stabil.

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, mengatakan harga ayam hidup (livebird) di kandang saat ini telah melampaui BPP yang sebelumnya berada pada kisaran Rp21.000–Rp23.000 per kilogram.

“Artinya, peternak dalam kondisi menguntungkan karena harga jual sudah berada di atas biaya produksi,” ujarnya.

Harga Mengacu Regulasi Pemerintah

Sugeng menjelaskan, harga daging ayam ras saat ini masih berada dalam rentang ketentuan pemerintah melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024. Dalam regulasi tersebut, batas bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) ditetapkan Rp23.000 per kilogram, sedangkan batas atas Rp25.000 per kilogram di tingkat produsen.

Data panel harga dari Badan Pangan Nasional mencatat harga ayam hidup di kandang kini berada di sekitar Rp25.000 per kilogram, mendekati batas atas HAP. Sementara itu, harga daging ayam ras di tingkat konsumen secara nasional berada di kisaran Rp40.000 per kilogram, mencerminkan keseimbangan pasokan dan permintaan.

Dampak Permintaan Program MBG dan Momentum Musiman

Peningkatan serapan ayam untuk kebutuhan program MBG menjadi salah satu faktor utama penguatan harga di tingkat peternak. Selain itu, permintaan juga terdorong momentum musiman menjelang Ramadan serta libur keagamaan, yang secara historis meningkatkan konsumsi protein hewani.

Kondisi ini membuat pergerakan harga lebih stabil dibanding periode sebelumnya yang kerap mengalami fluktuasi tajam akibat oversupply.

Peternak Sambut Peran BUMN di Sektor Hulu

Peternak menyatakan dukungan terhadap rencana keterlibatan BUMN dalam industri unggas, khususnya pada sektor hulu seperti produksi pakan dan penyediaan bibit ayam atau day old chick (DOC). Kehadiran negara dinilai dapat memperbaiki tata kelola rantai pasok dan menjaga kestabilan harga sarana produksi.

Namun demikian, peternak berharap BUMN tidak masuk langsung ke budidaya ayam broiler agar tidak menjadi pesaing bagi peternak mandiri. Peran yang dinilai lebih strategis adalah pembangunan Rumah Potong Ayam (RPA) untuk menyerap hasil produksi rakyat sehingga keseimbangan suplai dan permintaan tetap terjaga.

Tantangan Distribusi Bibit Masih Terjadi

Di lapangan, peternak masih menghadapi kendala distribusi DOC yang belum merata. Akibatnya, sebagian kandang belum terisi optimal karena harus menunggu pasokan bibit, yang berpotensi menahan peningkatan produksi nasional.

Momentum Perbaikan Kesejahteraan Peternak

Dengan harga yang mulai stabil dan permintaan yang meningkat, pelaku usaha berharap kondisi ini dapat berlanjut sebagai momentum pemulihan kesejahteraan peternak setelah beberapa tahun menghadapi tekanan biaya produksi dan volatilitas pasar.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: https://klikjambinew.com/

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA