Harga Minyak RI Tertekan di Akhir 2025, ICP Turun ke USD61,10 akibat Ancaman Banjir Pasokan Global

waktu baca 3 menit
Minggu, 18 Jan 2026 09:08 158 Admin

KJ-News, Jakarta – Harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) menutup tahun 2025 dengan tekanan signifikan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan ICP Desember 2025 sebesar USD61,10 per barel, turun USD1,73 per barel dibandingkan periode November 2025 yang berada di level USD62,83 per barel.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026 tertanggal 9 Januari 2026, sekaligus menandai melemahnya harga minyak nasional seiring gejolak pasokan energi global.

Penurunan ICP ini tidak terjadi tanpa sebab. Sentimen kekhawatiran pasar terhadap potensi “super glut” atau banjir pasokan minyak dunia menjadi faktor utama yang menekan harga. Produksi minyak Amerika Serikat yang tetap tinggi, ditambah peningkatan output dari kelompok OPEC+, membuat pasar global mengalami kelebihan suplai.

Tekanan semakin kuat setelah International Energy Agency (IEA) memproyeksikan surplus minyak global pada 2026 mencapai 3,7 hingga 4 juta barel per hari (bph). Angka ini dinilai sangat besar, bahkan melampaui kondisi kelebihan pasokan saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaiman, mengungkapkan bahwa faktor geopolitik turut berperan dalam pelemahan harga minyak.

“Penurunan ICP bulan Desember juga dipengaruhi oleh peningkatan suplai minyak dunia serta meredanya ketegangan geopolitik Rusia–Ukraina,” ujar Laode di Jakarta, Kamis (15/1/2026), dikutip dari laman resmi Migas ESDM.

Meredanya konflik tersebut, khususnya setelah muncul sinyal Ukraina membatalkan aspirasi bergabung dengan NATO, mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak global.

Di sisi lain, Rusia justru meningkatkan produksi. Negara tersebut memproyeksikan output minyak tahun 2025 mencapai 10,36 juta bph, dan naik lagi menjadi 10,54 juta bph pada 2026, sehingga menambah tekanan pasokan global.

Dari kawasan Asia Pasifik, pelemahan permintaan juga datang dari Tiongkok. Tingkat pengolahan minyak mentah (crude throughput) Negeri Tirai Bambu tercatat turun 0,9 persen pada November 2025 menjadi 14,86 juta bph, level terendah dalam enam bulan terakhir. Data ini mengindikasikan perlambatan permintaan energi di negara konsumen minyak terbesar dunia tersebut.

Sementara itu, laporan OPEC dan S&P Global menunjukkan tren yang semakin menekan harga, yakni kenaikan suplai dari negara Non-OPEC+, berbanding terbalik dengan revisi penurunan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global.

Penurunan harga tidak hanya terjadi pada ICP. Harga minyak mentah acuan dunia juga kompak melemah sepanjang Desember 2025, antara lain:

Basket OPEC turun USD2,61 menjadi USD61,85 per barel

Brent (ICE) turun USD2,02 menjadi USD61,64 per barel

WTI (Nymex) melemah USD1,61 ke level USD57,87 per barel

Dated Brent turun USD0,95 menjadi USD62,70 per barel

Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi industri migas nasional, terutama dalam menyusun strategi fiskal, investasi, dan kebijakan energi di tengah dinamika pasar global yang semakin volatil.

 

 

Editor: Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA