Resmi Beroperasi, Kilang Minyak Terbesar RI Siap Hentikan Impor BBM Solar

waktu baca 3 menit
Selasa, 13 Jan 2026 08:27 183 Admin

 

KJN, Jakarta – Indonesia resmi memiliki kilang minyak terbesar setelah Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur diresmikan pada Senin (12/1/2026). Dengan beroperasinya kilang ini, pemerintah optimistis Indonesia tidak lagi bergantung pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya solar.

 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, keberadaan RDMP Balikpapan menjadi tonggak penting menuju kemandirian energi nasional. Selain menghentikan impor solar, kilang ini juga akan meningkatkan produksi bensin dengan nilai oktan tinggi, yakni RON 92, RON 95, dan RON 98, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

 

“Ke depan tidak ada lagi impor solar. Kebutuhan solar nasional sekitar 3,8 juta kiloliter, ditambah implementasi program B40 hingga B50 mencapai sekitar 5 juta kiloliter. Dengan kapasitas ini, kebutuhan tersebut bisa tertutup bahkan surplus sekitar 1,4 juta kiloliter,” ujar Bahlil dalam peresmian RDMP Balikpapan, dikutip Selasa (13/1/2026).

 

Menurut Bahlil, hanya solar dengan spesifikasi tertentu yang masih akan diimpor dalam jumlah terbatas, sekitar 600 ribu kiloliter. Namun, ia menargetkan pada semester kedua 2026, Pertamina dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan tersebut dari produksi dalam negeri.

 

Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa peningkatan produksi bensin berkualitas tinggi bertujuan menghentikan impor BBM secara bertahap sekaligus mendorong badan usaha swasta untuk membeli BBM produksi dalam negeri melalui Pertamina.

 

“Supaya badan usaha swasta tidak lagi impor, tapi membeli BBM dari Pertamina. Ini amanat konstitusi, Pasal 33 UUD 1945, karena energi menyangkut hajat hidup orang banyak dan harus dikuasai negara,” tegasnya.

 

Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, pemerintah memperkirakan penghematan devisa negara bisa mencapai lebih dari Rp60 triliun per tahun, terutama dari pengurangan impor solar.

 

Selain solar dan bensin, pemerintah juga menargetkan swasembada avtur pada 2027 dengan skema impor terbatas pada minyak mentah (crude oil) untuk kemudian diolah di dalam negeri.

 

Bahlil mengakui, kebijakan memotong rantai impor ini berpotensi menuai resistensi, termasuk serangan opini di media sosial. Namun, ia menegaskan siap menghadapi risiko tersebut demi kepentingan nasional.

 

“Setelah ini pasti ramai di media sosial. Dibilang Menteri ESDM memotong jalur para importir. Tapi kalau ini berhasil, maka ketergantungan impor semakin tipis,” ujarnya.

 

Sebagai informasi, proyek RDMP Balikpapan menelan investasi sebesar 7,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp123 triliun. Proyek ini meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari 260 ribu barel per hari (bph) menjadi 360 ribu bph.

 

Sejumlah peningkatan fasilitas dilakukan dalam proyek ini, di antaranya penambahan kapasitas tangki timbun minyak mentah di Lawe-Lawe, pembangunan terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter, empat dermaga baru, serta pembangunan pipa gas sepanjang 78 kilometer dari Senipah ke Balikpapan.

 

Dengan kapasitas dan fasilitas baru tersebut, RDMP Balikpapan diharapkan menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM dalam jangka panjang.

 

 

Editor: Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA