Rendang MBG di Padang Diolah dari Santan Kelapa Petikan Beruk Terlatih, Unik dan Sarat Makna Budaya

waktu baca 2 menit
Jumat, 23 Jan 2026 12:45 154 Admin

KJ-News.com, Sumatra Barat – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Padang, Sumatera Barat, menghadirkan sajian kuliner unik sekaligus sarat nilai budaya. Rendang daging yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanah Sirah Piai Nan XX diolah menggunakan santan dan minyak kelapa hasil petikan beruk atau monyet terlatih.

Keunikan proses tersebut dibagikan melalui akun Instagram resmi @sppgtanahsirahpiainanxx dalam unggahan bertajuk “Story Marandang”, Kamis (22/1/2026). Video itu menampilkan beruk-beruk terlatih yang dengan cekatan memanjat pohon kelapa dan menjatuhkan buah kelapa pilihan menggunakan kekuatan tangan dan kaki mereka.

Kelapa-kelapa hasil petikan tersebut kemudian diolah menjadi santan berkualitas tinggi. Santan inilah yang menjadi bahan utama bumbu rendang yang dimasak di dapur SPPG Tanah Sirah Piai Nan XX. Di dapur, para petugas tampak bekerja secara gotong royong—mulai dari menghaluskan bumbu, mengaduk santan hingga matang, hingga menyiapkan hidangan akhir.

Menu MBG hari itu terdiri dari nasi putih, rendang daging, tahu goreng, dan buah jeruk. Makanan kemudian dikemas per porsi dalam wadah makan dan didistribusikan ke sekolah-sekolah di sekitar wilayah tersebut. Anak-anak terlihat antusias dan menikmati sajian rendang dengan lahap.

Pendiri Indonesia Food Security Review, I Dewa Made Agung, turut memberikan apresiasi atas inovasi kuliner yang dilakukan SPPG Tanah Sirah Piai Nan XX. Ia menjelaskan bahwa beruk-beruk yang memetik kelapa tersebut telah melalui pelatihan khusus.

“Beruk ini punya sekolah, bahkan kepala sekolah sendiri. Mereka dilatih untuk memanjat dan memilih kelapa terbaik. Banyak orang bisa memasak rendang, tapi rasanya tidak akan sama,” ujar Agung.

Menurutnya, kualitas minyak dan santan kelapa menjadi kunci utama cita rasa rendang. Kelapa hasil petikan beruk dinilai menghasilkan minyak alami yang lebih murni dan beraroma khas.

“Dari alam, ke dapur SPPG, hingga ke piring anak-anak Indonesia. Ini bukan sekadar makanan, tapi cerita tentang rasa, budaya, dan hubungan mutualisme antara manusia dan alam,” tambahnya.

Agung menilai sajian MBG tersebut bukan hanya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga mengandung nilai edukasi dan pelestarian tradisi lokal yang patut diapresiasi dan dicontoh di daerah lain.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: KlikJambiNew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA