Harga Batu Bara Kembali Menguat, Rencana China Bangun 100 PLTU Jadi Penopang Pasar

waktu baca 2 menit
Sabtu, 17 Jan 2026 20:09 153 Admin

KJ-News, Jakarta – Harga batu bara global kembali menguat pada perdagangan Kamis (15/1/2026). Penguatan ini ditopang oleh rencana China membangun lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara, meskipun impor batu bara negara tersebut tercatat menurun sepanjang 2025.

Berdasarkan data pasar, harga batu bara Newcastle kontrak Januari 2026 tercatat turun tipis 0,6% ke level US$104 per ton. Sementara itu, kontrak Februari 2026 justru naik 0,7% menjadi US$110,7 per ton, dan Maret 2026 menguat US$0,65 ke level US$110,85 per ton.

Di pasar Eropa, harga batu bara Rotterdam kontrak Januari 2026 melemah tipis US$0,1 menjadi US$97,35 per ton. Namun, kontrak Februari 2026 naik US$0,2 ke level US$95,35 per ton, sedangkan Maret 2026 menguat US$0,25 menjadi US$94,25 per ton.

Mengutip TradingView, harga batu bara bergerak mendekati US$110 per ton, yang merupakan level tertinggi dalam sebulan terakhir. Kenaikan ini terjadi seiring persiapan China meluncurkan lebih dari 100 PLTU baru yang diproyeksikan mulai memasok listrik ke berbagai wilayah pada tahun ini.

Sebagai konsumen, produsen, sekaligus importir batu bara terbesar di dunia, China masih menjadikan batu bara sebagai tulang punggung pasokan energi untuk menopang pertumbuhan ekonomi, di tengah ekspansi energi terbarukan yang terus digenjot.

Meski demikian, pemerintah China telah menyatakan komitmen untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara secara bertahap sebelum 2030, sejalan dengan target transisi energi dan pengendalian emisi karbon.

Data terbaru menunjukkan, impor batu bara China pada 2025 turun 9,6% menjadi 490 juta ton. Penurunan tersebut dipicu oleh meningkatnya produksi batu bara domestik serta penurunan yang relatif jarang terjadi pada pembangkitan listrik tenaga termal.

Selain itu, sebuah laporan lembaga swasta mencatat bahwa pembangkit listrik berbasis batu bara di China dan India sama-sama mengalami penurunan pada 2025. Ini menjadi penurunan bersamaan pertama dalam hampir 50 tahun, seiring kedua negara meningkatkan kapasitas energi bersih dalam jumlah yang mencetak rekor.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meski permintaan jangka pendek masih menopang harga batu bara, arah jangka panjang pasar energi global tetap mengarah pada transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.

 

 

Editor: Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA