KJ-News, Jambi – Ungkapan “guruku pahlawanku, guruku orang tua keduaku” bukan sekadar slogan. Kalimat itu menjadi pengingat kuat akan sebuah masa ketika dunia pendidikan masih berdiri tegak di atas nilai adab, etika, dan rasa hormat. Masa ketika hubungan antara guru, murid, dan orang tua dilandasi kepercayaan serta tanggung jawab bersama dalam membentuk karakter anak.
Pengalaman pribadi penulis pada era 1990-an hingga awal 2000-an menjadi cermin perbedaan zaman. Saat itu, hukuman dari guru bukan dipandang sebagai kekerasan, melainkan bentuk tanggung jawab mendidik. Teguran keras atau sanksi fisik ringan diberikan bukan tanpa sebab, melainkan karena pelanggaran aturan yang dilakukan murid secara sadar.
Peristiwa ketika seorang anak pulang sekolah mengadu kepada orang tua karena dipukul dan dipotong rambutnya oleh guru, justru berujung pada pelajaran moral yang lebih dalam. Orang tua tidak serta-merta membela, tetapi memperkuat pesan disiplin yang telah diberikan guru. Bukan dendam yang tertanam, melainkan rasa syukur dan pemahaman akan arti tanggung jawab.
Puluhan tahun berlalu, kenangan itu tidak menjadi luka, melainkan fondasi nilai kehidupan. Guru dipahami bukan hanya sebagai pengajar ilmu pengetahuan, tetapi pembentuk adab, etika, dan kedisiplinan—nilai dasar yang menentukan masa depan seseorang.
Tak sedikit generasi yang hari ini menjadi pegawai profesional, prajurit TNI, anggota Polri, dokter, insinyur, hingga pemimpin di berbagai sektor, lahir dari didikan guru-guru yang bekerja dengan kesabaran dan keikhlasan. Mereka mengasah bukan hanya kecerdasan otak, tetapi juga nurani.
Peran orang tua memang tak tergantikan, namun ada batas kemampuan dalam membekali anak menghadapi dunia luar. Guru hadir melengkapi, mengajarkan berpikir kritis, kerja sama, tanggung jawab, kejujuran, hingga empati sosial—nilai-nilai yang tak selalu diajarkan di rumah.
Menjadi guru bukan pekerjaan mudah. Mereka datang lebih pagi, pulang lebih sore, mengorbankan waktu bersama keluarga demi anak-anak yang bukan darah dagingnya. Semua dilakukan dengan satu harapan sederhana: melihat murid tumbuh menjadi manusia berguna bagi diri, keluarga, dan bangsa.
Namun realitas hari ini menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan. Teguran guru kerap disalahartikan. Orang tua bereaksi tanpa memahami akar masalah, bahkan ada yang menjadikan guru sebagai musuh, melaporkannya ke aparat hukum. Ironisnya, kekerasan terhadap guru oleh murid pun mulai terjadi.
Padahal, jasa guru tak akan pernah mampu dibalas. Tanpa sentuhan kasih sayang dan ketegasan, ilmu akan terasa hampa. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses membentuk manusia seutuhnya.
Untuk seluruh guru di negeri ini, tetaplah menyalakan api pengabdian. Jangan lelah mencetak generasi penerus bangsa. Dan kepada para murid, hormatilah gurumu, karena dari merekalah hidup yang mulia itu bermula.
Penulis: Ramadhani – Warga Jambi
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar