KJ-News.com, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah menu MBG menggunakan buah kecapi di sejumlah sekolah di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, viral di media sosial. Unggahan foto dan video yang beredar sejak 19 Januari 2026 memicu kritik luas karena buah tersebut dinilai tidak sesuai untuk anak-anak usia dini.
Buah kecapi—buah lokal bercita rasa asam dengan kulit keras—terlihat disajikan dalam paket MBG yang dibagikan kepada siswa sekolah dasar dan balita. Banyak warganet menilai pilihan menu tersebut kurang tepat, sulit dikonsumsi anak-anak, bahkan dianggap berpotensi membuat penerima manfaat enggan menghabiskan makanan.
SPPG Gunung Sindur Sampaikan Permintaan Maaf Resmi
Menanggapi polemik tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Sindur akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Klarifikasi disampaikan melalui akun Instagram resmi @sppgdesapengasinan pada 20 Januari 2026.
Kepala SPPG Gunung Sindur menegaskan bahwa penyajian buah kecapi awalnya dimaksudkan sebagai upaya edukasi dan pengenalan buah lokal kepada masyarakat, sekaligus mendukung diversifikasi pangan bergizi.
“Menu ini bertujuan mengenalkan buah lokal yang memiliki nilai gizi. Namun kami menyadari bahwa pemilihan dan cara penyajian buah kecapi kurang sesuai untuk sasaran anak-anak, khususnya usia balita dan SD,” tulis SPPG dalam pernyataan resminya.
SPPG memastikan kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh agar kesalahan serupa tidak terulang dalam pelaksanaan MBG ke depan.
Reaksi Publik: Niat Baik Dinilai Kurang Tepat Sasaran
Viralnya menu MBG dengan buah kecapi memunculkan beragam reaksi masyarakat. Sebagian besar warganet mempertanyakan ketepatan menu untuk anak-anak PAUD, TK, dan SD kelas awal yang masih membutuhkan makanan mudah dikunyah dan disukai secara rasa.
“Buah yang rasanya asam dan keras seperti ini jelas bukan untuk anak kecil. Apel saja masih banyak yang tidak suka,” tulis salah satu warganet.
Meski demikian, sebagian masyarakat tetap mengapresiasi niat SPPG dalam mempromosikan buah lokal, namun mengingatkan bahwa kesesuaian menu dengan usia penerima manfaat adalah faktor utama dalam program gizi nasional.
Evaluasi Menu MBG Jadi Sorotan Nasional
Kasus ini menambah daftar evaluasi publik terhadap pelaksanaan program MBG di berbagai daerah. Sebelumnya, beberapa menu MBG juga sempat menuai kritik terkait porsi, kemasan, hingga standar kelayakan konsumsi, meski kemudian diklarifikasi oleh SPPG setempat.
Pengamat gizi menilai, program MBG harus disusun dengan mempertimbangkan nilai gizi, tekstur makanan, rasa, serta kebiasaan konsumsi anak-anak, agar tujuan peningkatan status gizi tidak justru menjadi kontraproduktif.
Komitmen Perbaikan dan Pelibatan Ahli Gizi
SPPG Gunung Sindur menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh dengan melibatkan ahli gizi, pihak sekolah, dan pemangku kepentingan terkait. Langkah ini dilakukan untuk memastikan menu MBG ke depan aman, bergizi seimbang, mudah dikonsumsi, dan diterima anak-anak.
Permintaan maaf ini diharapkan menjadi momentum perbaikan tata kelola MBG secara nasional agar program unggulan pemerintah tersebut benar-benar memberikan manfaat optimal bagi generasi penerus bangsa.
Penulis: Saputra
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar