KJN, Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengapresiasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau kelompok 3B yang mulai dijalankan di sejumlah daerah. Program ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat fondasi kesehatan generasi masa depan.
“Penyaluran MBG kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita merupakan intervensi yang sangat penting. Pemenuhan gizi pada fase 1.000 hari pertama kehidupan sangat menentukan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak di masa depan,” ujar Netty dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Netty menilai pelibatan posyandu, kader kesehatan, serta Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam proses distribusi MBG merupakan pendekatan yang tepat. Selain dekat dengan masyarakat, jaringan tersebut telah memiliki kepercayaan kuat di tingkat desa. Ia juga mengapresiasi mekanisme pengantaran langsung ke rumah bagi penerima manfaat yang memiliki keterbatasan mobilitas.
“Peran kader dan bidan di lapangan sangat krusial. Mereka menjadi ujung tombak keberhasilan program ini, sekaligus memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran,” jelasnya.
Terkait mutu gizi, Netty menekankan pentingnya penyusunan menu MBG yang benar-benar berorientasi pada kebutuhan kesehatan ibu dan balita. Ia menyambut baik masukan para ahli gizi masyarakat agar menu MBG menghindari ultra-processed food (UPF) seperti burger, spageti, dan makanan sejenisnya.
“Masukan dari para ahli sangat penting sebagai bahan penyempurnaan. Prinsip utamanya, MBG harus menghadirkan makanan segar, bergizi seimbang, dan sesuai kebutuhan kelompok sasaran,” tegas Netty.
Ia juga mendorong pemanfaatan pangan lokal dalam penyusunan menu MBG. Menurutnya, potensi protein lokal seperti ikan, telur, serta bahan pangan khas daerah perlu dimaksimalkan karena kaya gizi dan mudah diawasi kualitasnya.
“Pangan lokal kita sangat beragam dan bernilai gizi tinggi. Jika dimanfaatkan secara optimal, selain lebih sehat juga dapat menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya.
Meski demikian, Netty menekankan perlunya evaluasi berkelanjutan terhadap pelaksanaan program. Sejumlah masukan masyarakat terkait variasi menu, cita rasa yang kurang sesuai untuk balita, hingga potensi sisa makanan harus menjadi perhatian bersama.
“Masukan dari penerima manfaat adalah hal yang wajar dan justru penting untuk perbaikan. Pemerintah perlu terus menyempurnakan menu agar lebih variatif, ramah balita, dan sesuai kebutuhan gizi masing-masing kelompok sasaran,” katanya.
Selain itu, Netty juga menyoroti meningkatnya beban kerja kader pendamping seiring implementasi MBG. Ia mendorong pemerintah memberikan dukungan memadai, baik melalui pelatihan, penguatan kapasitas, maupun bentuk apresiasi yang layak.
“Kader bekerja dari pagi hingga siang hari, melakukan distribusi sekaligus pencatatan dan pelaporan. Dukungan yang cukup akan membuat mereka lebih optimal dan menjaga keberlanjutan program,” ungkapnya.
Netty menegaskan, Program MBG merupakan kebijakan besar dengan dampak luas bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Dengan evaluasi yang berkelanjutan, pendampingan yang kuat, serta kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, kita optimistis Program MBG akan terus disempurnakan dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tutup Netty.
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar