KJ-News.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa aliran modal asing keluar (capital outflow) dari Indonesia mencapai US$1,6 miliar pada Januari 2026. Tekanan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global sejak awal tahun.
Pernyataan itu disampaikan Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar secara daring, Rabu (21/1/2026).
“Meningkatnya ketidakpastian global menyebabkan terjadinya aliran modal keluar sebesar US$1,6 miliar,” ujar Perry.
Ia menjelaskan, tren tersebut berbanding terbalik dengan kondisi Januari 2025, ketika Indonesia justru mencatat aliran modal masuk (capital inflow) sebesar US$19 juta di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan US$288 juta di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Menurut Perry, gejolak pasar keuangan global yang dipengaruhi kebijakan moneter negara maju, dinamika geopolitik, serta arah suku bunga global, membuat investor cenderung bersikap lebih hati-hati dalam menempatkan dananya di pasar negara berkembang.
Menghadapi tekanan aliran modal di awal 2026, Bank Indonesia menegaskan pentingnya penguatan respons kebijakan yang terkoordinasi antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor keuangan.
“Sehubungan dengan itu, diperlukan penguatan respons kebijakan secara sinergis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan nasional,” tegas Perry.
BI memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat operasi moneter, serta mengoptimalkan instrumen seperti SRBI dan SBN guna menjaga kepercayaan investor dan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut.
Penulis: Ridho Saputra
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar