Jambi, KJ-News.com (16/02/2026) – Petani kelapa sawit di Provinsi Jambi kembali menghadapi tekanan pasar setelah harga Tandan Buah Segar (TBS) mengalami penurunan pada periode pertengahan Februari 2026. Koreksi harga ini dipicu dinamika pasar global serta fluktuasi harga minyak nabati yang masih belum stabil sejak awal tahun.
Berdasarkan hasil rapat penetapan harga yang dilakukan Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, harga TBS untuk tanaman usia produktif 10–20 tahun—yang menjadi acuan utama pekebun rakyat—turun Rp45,52 per kilogram menjadi Rp3.598,16/kg untuk periode 13–19 Februari 2026.
Penurunan tersebut melanjutkan tren harga yang cenderung fluktuatif sepanjang 2026, setelah sebelumnya pada periode 6–12 Februari 2026 harga sempat naik ke kisaran Rp3.643,58/kg dan memberi harapan perbaikan pendapatan petani.
Rincian Harga TBS Berdasarkan Usia Tanam
Penetapan harga terbaru menunjukkan variasi nilai jual berdasarkan umur tanaman, yakni:
Sementara itu, harga Crude Palm Oil (CPO) ditetapkan sebesar Rp14.423,27/kg dan minyak inti sawit Rp12.470,91/kg dengan Indeks K sebesar 94,35 persen.
Dampak Langsung ke Petani Rakyat
Kelompok usia tanam 10–20 tahun merupakan mayoritas kebun sawit rakyat di Jambi, sehingga setiap perubahan harga pada kategori ini sangat memengaruhi pendapatan petani. Penurunan harga di tengah tingginya biaya pupuk, perawatan, dan transportasi membuat margin usaha semakin tertekan.
Kondisi ini menambah tantangan bagi pekebun swadaya yang sebelumnya berharap tren kenaikan harga pada awal Februari dapat berlanjut dan menutup beban operasional yang meningkat.
Dipengaruhi Pasar Global
Fluktuasi harga sawit domestik tidak terlepas dari:
Karena itu, stabilitas harga sawit di daerah sangat bergantung pada kondisi pasar ekspor, bukan hanya faktor produksi lokal.
Harapan Stabilitas Harga
Petani berharap pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menjaga tata niaga sawit tetap kondusif, termasuk memastikan transparansi penetapan harga, efisiensi rantai distribusi, serta penguatan hilirisasi agar nilai tambah tidak hanya bergantung pada pasar bahan mentah.
Jika volatilitas harga terus berlanjut, dikhawatirkan akan berdampak pada daya beli petani dan keberlanjutan perawatan kebun, yang pada akhirnya bisa memengaruhi produktivitas sawit daerah.
Reporter: Ridho Saputra
Editor: M. Akbar
Media: klikjambinew.com
Tidak ada komentar