Imlek Tak Lagi Berkah, Ekspor Lobster Indonesia Kehilangan Momentum di China

waktu baca 2 menit
Kamis, 29 Jan 2026 07:36 138 Admin

Jakarta, (KJ-News.com) – Performa ekspor lobster Indonesia menunjukkan tekanan signifikan sepanjang 2025. Di saat permintaan lobster di China biasanya melonjak menjelang Tahun Baru Imlek, posisi lobster Indonesia justru semakin tersisih dari pasar Negeri Tirai Bambu.

Berdasarkan data ekspor HS 030611 (lobster dan sea crawfish beku), total nilai ekspor lobster Indonesia sepanjang Januari–November 2025 tercatat sebesar US$ 5,18 juta, atau turun 17,14 persen secara tahunan (year-on-year).

Penurunan ini terjadi di tengah posisi lobster sebagai komoditas perikanan bernilai tinggi yang sangat sensitif terhadap regulasi perdagangan, kepastian pasokan, serta standar rantai dingin (cold chain) yang ketat.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, struktur pasar ekspor lobster Indonesia pada 2025 masih didominasi oleh Amerika Serikat dengan nilai US$ 1,71 juta, disusul Australia sebesar US$ 1,40 juta. Kedua negara tersebut menyerap lebih dari 50 persen total ekspor lobster Indonesia.

Sementara itu, Singapura berada di posisi berikutnya dengan nilai US$ 0,48 juta dan berfungsi sebagai hub distribusi regional. Jepang dan Taiwan tetap menjadi pasar tradisional di Asia Timur dengan permintaan yang relatif stabil.

Sebaliknya, China hanya menempati peringkat ketujuh sebagai negara tujuan ekspor lobster Indonesia dengan nilai sekitar US$ 0,17 juta, berada di bawah Uni Emirat Arab dan hanya sedikit di atas Malaysia. Kondisi ini kontras dengan posisi China sebagai salah satu pasar konsumsi lobster terbesar di dunia, khususnya saat perayaan Imlek yang dikenal memiliki willingness to pay tinggi.

Sejak 2020, China diketahui memperketat jalur impor produk perikanan hidup maupun beku. Negeri tersebut juga mendorong substitusi pasokan dari negara-negara yang mampu menjamin konsistensi volume, kualitas, dan rantai pasok yang efisien.

Lonjakan ekspor lobster Indonesia pada 2024 dinilai lebih disebabkan oleh efek low base dan pembukaan sementara jalur dagang, bukan karena perubahan struktural yang berkelanjutan.

“Ketika konsistensi pasokan tidak terjaga, China akan dengan cepat beralih ke pemasok lain. Pasar ini sangat cair dan tidak menunggu,” demikian catatan riset CNBC Indonesia Research.

Dengan posisi China yang fluktuatif dan ketergantungan tinggi pada pasar negara maju seperti AS dan Australia, ekspor lobster Indonesia kini berada pada posisi rentan. Ketergantungan tersebut membuat kinerja ekspor sangat sensitif terhadap harga global, standar kualitas, serta isu keberlanjutan.

Di sisi lain, lemahnya posisi Indonesia di pasar China menyebabkan hilangnya peluang di momen Imlek, periode puncak konsumsi lobster dengan nilai ekonomi tertinggi di kawasan Asia.

 

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: klikjambinew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA