Airlangga Hartarto Ungkap Modal Asing Mengantre Masuk RI, Investor Global Bidik Proyek Strategis

waktu baca 3 menit
Rabu, 4 Feb 2026 06:28 101 Admin

Jakarta, (KJ-News.com) – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan, Indonesia tetap menjadi magnet utama investasi asing. Pemerintah menegaskan, arus modal global saat ini justru tengah bersiap masuk ke Tanah Air seiring stabilitas makroekonomi, reformasi berkelanjutan, serta prospek pertumbuhan jangka menengah yang solid.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, Indonesia saat ini memiliki pipeline investasi asing yang kuat, baik melalui kerja sama perdagangan, pembiayaan transisi energi, hingga pengembangan kawasan ekonomi dan ekonomi digital.

“Ini berarti ada banyak modal dalam pipeline yang siap untuk diinvestasikan di Indonesia,” ujar Airlangga dalam Indonesia Economic Summit (IES) 2026, Selasa (3/2/2026).

Airlangga memaparkan, Indonesia telah menyelesaikan sebagian besar negosiasi perjanjian perdagangan internasional, termasuk dengan Kanada, Uni Eropa (UE), dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Sementara itu, proses finalisasi perjanjian dagang dengan Amerika Serikat juga terus berjalan.

Tak hanya itu, Indonesia bersama negara-negara G20 telah memperoleh komitmen pendanaan Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai US$21,4 miliar, dengan realisasi awal mencapai US$3,5 miliar. Sejumlah negara mitra seperti Australia dan Singapura juga menyatakan minat kuat untuk memperluas investasi, termasuk di sektor kawasan ekonomi khusus, transportasi, dan digitalisasi.

Di tingkat regional, pemerintah mendorong kolaborasi lintas negara, salah satunya kerja sama dengan Sarawak Air Malaysia guna membuka konektivitas transportasi dan memperkuat sektor pariwisata di luar Jakarta dan Bali.

Airlangga juga menegaskan bahwa pemerintah baru saja meluncurkan agenda reformasi pasar modal yang berfokus pada empat pilar utama, yakni efisiensi, transparansi, tata kelola, dan penegakan hukum. Reformasi ini mendapat respons positif dari pasar, tercermin dari kembalinya pasar modal ke zona hijau.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Indonesian Business Council (IBC) Arsjad Rasjid menilai IES 2026 menjadi forum strategis untuk menjaga kepercayaan investor global di tengah ketidakpastian dunia.

“Fokus kami ada pada tiga pilar utama, yaitu kepastian, kapabilitas, dan modal agar Indonesia tetap atraktif dan kompetitif,” tegas Arsjad.

Salah satu inisiatif penting dalam IES 2026 adalah peluncuran Business 57+ (B57+) Asia-Pacific Regional Chapter, yang bertujuan memperkuat konektivitas ekonomi negara-negara Islam dan mitra strategisnya, dengan Indonesia sebagai simpul utama di kawasan Asia-Pasifik.

Chief Economist IBC Denni Purbasari menambahkan, kombinasi stabilitas ekonomi, demokrasi yang matang, serta bonus demografi menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang yang menarik.

“Investor asing melihat Indonesia tidak hanya dari sisi return, tetapi juga kepastian kebijakan dan stabilitas makro-politik,” jelasnya.

Sejumlah sektor strategis dinilai memiliki potensi besar menarik investasi, mulai dari rantai pasok kendaraan listrik, ketahanan pangan, energi terbarukan, kesehatan, jasa keuangan, hingga pendidikan dan vokasi.

Indonesia Economic Summit (IES) 2026 sendiri menghadirkan delegasi dari lebih dari 50 negara, mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor global, serta organisasi internasional untuk membahas peluang investasi dan tantangan struktural ekonomi nasional di tengah dinamika global.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: klikjambinew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA