Harga Minyak Dunia Kembali Menguat, Dipicu Geopolitik Venezuela hingga Proyeksi Permintaan Global

waktu baca 3 menit
Minggu, 25 Jan 2026 21:48 183 Admin

Jakarta, (KJ-News.com) – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada pekan ketiga Januari 2026 setelah sempat tertekan dalam beberapa bulan terakhir. Penguatan ini didorong oleh kombinasi sentimen geopolitik global, membaiknya prospek permintaan, serta meredanya sejumlah risiko politik internasional.

Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan Jumat (23/1/2026) ditutup di level US$61,07 per barel, menguat 2,88% secara harian dan mencatat kenaikan 2,74% secara mingguan.

Sementara itu, minyak mentah acuan global Brent turut menguat ke level US$65,88 per barel, naik 2,84% dibandingkan perdagangan sebelumnya, serta melonjak 2,73% secara mingguan.

Penguatan harga minyak ini tidak terlepas dari sentimen geopolitik Venezuela. Kilang minyak Valero Energy dilaporkan membeli satu kargo minyak mentah Venezuela dari Vitol, menandai transaksi perdana kilang Pantai Teluk Amerika Serikat sejak tercapainya kesepakatan antara Washington dan Caracas untuk membeli hingga 50 juta barel minyak Venezuela.

Minyak Venezuela tersebut diperdagangkan dengan diskon sekitar US$8,5 hingga US$9,5 per barel terhadap Brent, mencerminkan upaya agresif Venezuela untuk kembali menembus pasar global menyusul pelonggaran izin pemasaran minyak oleh Amerika Serikat awal bulan ini.

Sebelum sanksi diberlakukan pada 2019, kilang-kilang besar AS tercatat mengolah sekitar 800.000 barel per hari minyak berat Venezuela. Kembalinya aliran minyak ini berpotensi menambah pasokan global, namun dalam jangka pendek justru dipandang sebagai faktor stabilisasi rantai pasok energi dunia.

Selain Venezuela, sentimen geopolitik Greenland juga turut menopang harga minyak. Pasar merespons positif keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menarik kembali ancaman tarif dagang terkait sengketa Greenland, sehingga meredakan kekhawatiran akan perang dagang AS–Eropa.

Trump juga menegaskan tidak akan melakukan aksi militer lanjutan terhadap Iran, selama Teheran tidak mengaktifkan kembali program nuklirnya. Kombinasi pernyataan tersebut menciptakan efek psikologis positif bagi pasar energi, meskipun risiko geopolitik global belum sepenuhnya sirna.

Di sisi fundamental, International Energy Agency (IEA) turut memberikan sentimen positif dengan merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 menjadi 930.000 barel per hari, dari sebelumnya 860.000 barel per hari.

Namun demikian, bayang-bayang surplus pasokan masih membatasi ruang kenaikan harga. Berdasarkan perhitungan Reuters, pasokan minyak global diperkirakan masih melebihi permintaan sekitar 3,69 juta barel per hari sepanjang 2026. IEA pun menegaskan bahwa kondisi “neraca pasokan yang gemuk” masih menjadi rem alami bagi lonjakan harga minyak.

Tekanan tambahan datang dari data persediaan minyak Amerika Serikat. American Petroleum Institute (API) melaporkan kenaikan stok minyak mentah AS sebesar 3,04 juta barel pada pekan lalu, jauh di atas ekspektasi analis sekitar 1,1 juta barel.

Lonjakan stok tersebut menegaskan bahwa pasar minyak global masih berada dalam kondisi oversupply, sehingga potensi kenaikan harga diperkirakan tetap terbatas meski sentimen geopolitik dan prospek permintaan menunjukkan perbaikan.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: https://klikjambinew.com/

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA