AI Bikin Rekrutmen Melambat, Cari Kerja Kian Sulit di 2026

waktu baca 2 menit
Rabu, 7 Jan 2026 17:03 38 Admin

 

KJN, Jakarta – Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) tidak hanya berdampak pada maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), tetapi juga menyebabkan perlambatan perekrutan tenaga kerja baru, terutama di perusahaan-perusahaan besar.

 

Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengungkapkan, adopsi AI mendorong banyak perusahaan besar menahan ekspansi tenaga kerja karena sebagian pekerjaan kini dapat diotomatisasi oleh teknologi.

 

“AI benar-benar berdampak pada perusahaan besar,” kata Kashkari, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (6/1/2026).

 

Ia menjelaskan, kondisi tingkat perekrutan dan PHK yang sama-sama rendah diperkirakan akan terus berlanjut di pasar tenaga kerja. Situasi ini berpotensi membuat pencari kerja semakin sulit memperoleh pekerjaan baru, meski angka pengangguran tidak melonjak signifikan.

 

Namun demikian, perlambatan perekrutan tersebut dinilai tidak terlalu terasa di perusahaan kecil. Kashkari menyebut, dampak AI terhadap struktur tenaga kerja saat ini lebih dominan dirasakan oleh korporasi berskala besar yang agresif mengadopsi teknologi digital.

 

Penggunaan AI sendiri mulai masif sejak kehadiran ChatGPT milik OpenAI pada 2022 yang langsung menarik perhatian dunia usaha. Sejak saat itu, banyak perusahaan mulai mengintegrasikan AI dalam operasional untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

 

Di sisi lain, adopsi AI juga memunculkan berbagai kekhawatiran, mulai dari ancaman terhadap lapangan pekerjaan, efektivitas peningkatan produktivitas, hingga risiko kesalahan investasi teknologi.

 

Meski begitu, Kashkari menilai sebagian pelaku usaha kini mulai merasakan manfaat nyata dari investasi AI yang mereka lakukan.

 

“Tidak diragukan lagi ada investasi yang keliru. Namun, ada banyak contoh bisnis yang menggunakan AI dan melihat peningkatan produktivitas yang nyata,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, perusahaan yang sebelumnya skeptis terhadap AI kini justru mulai mengandalkan teknologi tersebut dalam kegiatan bisnis sehari-hari.

 

“Bisnis yang dua tahun lalu ragu, sekarang mengatakan mereka benar-benar menggunakannya,” kata Kashkari.

 

Perkembangan ini menegaskan bahwa transformasi digital berbasis AI tidak hanya mengubah cara perusahaan beroperasi, tetapi juga membentuk ulang peta pasar tenaga kerja global, termasuk tantangan baru bagi para pencari kerja di tahun 2026.

 

Editor: Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA