Rendahnya Skrining Dini, Kanker Serviks Masih Jadi Ancaman Serius bagi Perempuan Indonesia

waktu baca 3 menit
Kamis, 8 Jan 2026 05:38 43 Admin

 

KJN, Jakarta – Minimnya kesadaran dan akses terhadap skrining dini membuat kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi perempuan Indonesia. Padahal, penyakit ini termasuk salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan disembuhkan jika terdeteksi sejak tahap awal.

 

Setiap 4 Februari, dunia memperingati Hari Kanker Sedunia sebagai momentum meningkatkan kesadaran global terhadap berbagai jenis kanker, termasuk kanker serviks yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan, khususnya di negara berkembang.

 

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 340.000 perempuan meninggal dunia setiap tahun akibat kanker serviks, dengan sekitar 90 persen kasus terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Indonesia, laporan Globocan 2022 menunjukkan terdapat 36.964 kasus baru kanker serviks dan lebih dari 20.000 kematian setiap tahunnya.

 

Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi menyatakan kanker serviks sejatinya dapat dieliminasi melalui upaya pencegahan dan deteksi dini, terutama pada perempuan usia produktif 30–59 tahun yang telah aktif secara seksual.

 

“Skrining untuk menemukan kasus sejak dini menjadi langkah penting agar kanker tidak berkembang ke stadium lanjut. Jika ditemukan lebih awal dan segera ditangani, risiko kematian dapat ditekan,” ujar Siti Nadia.

 

Namun, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan rutin membuat banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan RS EMC Alam Sutera, dr. Lisa Puspadewi Susanto, menyebut masih banyak perempuan yang enggan menjalani pemeriksaan IVA atau Pap smear karena minimnya informasi, rasa takut, serta anggapan bahwa pemeriksaan tidak perlu dilakukan selama tidak ada keluhan.

 

“Masih banyak yang berpikir kalau tidak sakit, tidak perlu ke rumah sakit. Padahal, skrining kanker serviks justru harus dilakukan sebelum muncul gejala,” ujar dr. Lisa.

 

Ia menambahkan, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan juga menjadi tantangan besar dalam pemerataan layanan kesehatan. Keterbatasan distribusi tenaga medis, fasilitas diagnostik, dan layanan terapi menyebabkan deteksi dini kanker serviks kerap terlambat, terutama di wilayah luar Pulau Jawa.

 

Selain faktor akses dan kesadaran, infeksi Human Papillomavirus (HPV) menjadi penyebab utama kanker serviks. Perubahan perilaku seksual, termasuk aktivitas seksual di usia dini dan berganti-ganti pasangan, turut meningkatkan risiko penularan HPV, sehingga upaya pencegahan perlu diperkuat melalui vaksinasi dan edukasi berkelanjutan.

 

Menurut dr. Lisa, proses perubahan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks berlangsung cukup panjang, yakni sekitar 15 hingga 20 tahun. Rentang waktu tersebut seharusnya menjadi peluang besar untuk melakukan pencegahan melalui skrining rutin.

 

“Karena prosesnya bertahap, sebagian besar kasus kanker serviks sebenarnya bisa dicegah jika skrining dilakukan secara rutin dan konsisten,” ujarnya.

 

 

Editor: Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA