Menkomdigi Meutya Hafid: Kecepatan Transformasi Digital ASEAN Ditentukan oleh Pemerataan Akses

waktu baca 2 menit
Jumat, 23 Jan 2026 11:53 87 Admin

KJ-News.com, Jakarta – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa kecepatan transformasi digital di kawasan ASEAN tidak dapat diukur hanya dari pesatnya adopsi teknologi canggih seperti Artificial Intelligence (AI) atau besarnya nilai ekonomi digital. Menurutnya, tolok ukur utama justru terletak pada pemerataan akses dan manfaat teknologi bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Narasi kecepatan digital sering terjebak pada angka adopsi AI dan nilai ekonomi digital. Padahal, tantangan terbesar Indonesia dan ASEAN adalah memastikan teknologi dapat diakses secara merata oleh ratusan juta penduduk di kawasan,” ujar Meutya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Meutya menekankan bahwa inklusivitas merupakan fondasi utama kesiapan digital. Ia menilai, pembangunan infrastruktur digital yang cepat tidak akan berdampak signifikan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan literasi dan keterampilan digital, terutama bagi generasi muda.

“Kecepatan jaringan tidak akan bermakna jika masyarakat belum memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara produktif,” tegasnya.

Lebih lanjut, Meutya menyampaikan bahwa bonus demografi yang dimiliki kawasan Asia Tenggara hanya akan menjadi keuntungan nyata apabila didukung oleh sumber daya manusia yang terampil dan melek digital.

“Bonus demografi hanya akan bermanfaat jika mereka terampil. Karena itu, kita harus mengukur seberapa cepat kita mampu mengedukasi dan meliterasi masyarakat,” katanya.

Dalam konteks regional, Menkomdigi mengungkapkan bahwa ASEAN saat ini tengah mematangkan Digital Economic Framework Agreement (DEFA). Kerangka kerja tersebut dirancang bukan sekadar sebagai perjanjian dagang, melainkan sebagai semacam ‘sistem operasi’ ekonomi digital ASEAN untuk memperkuat konektivitas dan interoperabilitas antarnegara.

Salah satu contoh nyata keberhasilan interoperabilitas digital di kawasan adalah implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang kini dapat digunakan lintas negara, termasuk di Thailand dan Malaysia.

Selain itu, Meutya menilai posisi netral ASEAN menjadi kekuatan strategis yang membuka peluang luas bagi masuknya teknologi dan investasi global.

“Netralitas ASEAN memberikan kepastian bahwa kawasan ini selalu terbuka dan inklusif bagi kerja sama dari seluruh dunia,” pungkasnya.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: KlikJambiNew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA