KJN, Jakarta – Singapura tercatat sebagai negara dengan investasi terbesar di sektor hilirisasi Indonesia sepanjang tahun 2025, mengungguli China yang selama ini dikenal agresif menanamkan modal di sektor tersebut.
Fakta ini terungkap dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Investasi 2025 yang digelar di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan bahwa total realisasi investasi hilirisasi sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai Rp584,1 triliun, meningkat 43,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut setara 30,2% dari total realisasi investasi nasional sepanjang 2025.
“Kami memang menyoroti sektor hilirisasi karena trennya terus meningkat. Dulu kontribusinya sekitar 25%, sekarang sudah mencapai 30% dari total investasi nasional,” ujar Rosan dalam konferensi pers.
Dari total investasi tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) masih mendominasi dengan kontribusi 73,5% atau Rp429,6 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang 26,5% atau Rp154,5 triliun.
Rosan memaparkan, lima negara dengan investasi PMA terbesar di sektor hilirisasi Indonesia sepanjang 2025 adalah:
Singapura – US$7,9 miliar
Hong Kong (RRT) – US$6,2 miliar
China (RRT) – US$4,8 miliar
Malaysia – US$3 miliar
Amerika Serikat – US$1,6 miliar
Dari sisi sektor, investasi hilirisasi didominasi oleh mineral sebesar Rp373,1 triliun, diikuti perkebunan dan kehutanan Rp144,5 triliun, minyak dan gas bumi Rp60 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp6,4 triliun.
“Kalau sebelumnya investasi banyak terkonsentrasi di mineral, sekarang mulai bergeser. Perkebunan dan sektor kelautan sudah masuk, seperti pengolahan tuna, cakalang, dan tongkol. Ini kami dorong karena sektor ini menciptakan lapangan kerja lebih besar,” jelas Rosan.
Ia menambahkan, meski sektor mineral masih didominasi PMA karena kebutuhan teknologi tinggi, pemerintah kini mendorong investasi yang disertai transfer teknologi dan pengetahuan. Bahkan, salah satu perusahaan asal China disebut akan merealisasikan investasi riset dan pengembangan (R&D) serta pemindahan hak paten ke Indonesia di bidang daur ulang mineral pada tahun ini.
Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ekosistem hilirisasi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri dalam negeri.
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar