Jakarta, (KJ-News.com) – Tekanan politik dan ketidakpastian kebijakan privasi membuat TikTok menghadapi gelombang eksodus pengguna di Amerika Serikat. Dalam lima hari terakhir, jumlah pengguna yang menghapus aplikasi TikTok melonjak hingga 150 persen dibandingkan rata-rata tiga bulan sebelumnya, seiring kekhawatiran atas perubahan struktur kepemilikan dan pengelolaan data pengguna.
Guncangan terhadap TikTok bermula dari kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang mewajibkan induk usaha TikTok, ByteDance asal China, melakukan divestasi operasional di AS atau menghadapi pemblokiran nasional. Setelah negosiasi panjang di tengah tensi geopolitik AS–China, operasional TikTok di AS akhirnya dialihkan ke perusahaan gabungan baru yang dikendalikan entitas Amerika.
Namun, alih-alih meredam polemik, langkah tersebut justru memicu kekhawatiran baru. CNBC International melaporkan, banyak pengguna memutuskan menghapus aplikasi TikTok usai pengumuman pembentukan perusahaan gabungan tersebut.
Data firma riset Sensor Tower menunjukkan, lonjakan uninstall TikTok terjadi signifikan dalam lima hari terakhir. Meski demikian, tingkat pengguna aktif harian TikTok di AS masih relatif stagnan dibandingkan pekan sebelumnya.
Keresahan pengguna semakin menguat setelah TikTok meminta persetujuan pembaruan kebijakan privasi. Dalam kebijakan tersebut, tercantum potensi pengumpulan data sensitif, mulai dari ras dan etnis, orientasi seksual, kewarganegaraan atau status imigrasi, hingga informasi keuangan.
Meski sejumlah poin serupa telah tercantum dalam kebijakan lama sejak Agustus 2024, momentum pengumuman perusahaan gabungan baru membuat isu ini viral dan memicu sentimen negatif di media sosial.
“Jika saya bisa menghapus platform terbesar saya karena terms and condition dan penyensoran yang tak terkendali, Anda juga bisa,” ujar kreator konten Dre Ronayne melalui unggahan di Threads. Ronayne mengaku memiliki hampir 400 ribu pengikut sebelum menghapus TikTok pada akhir pekan lalu.
Keluhan juga datang dari kreator lain yang melaporkan gangguan teknis, termasuk kegagalan mengunggah video. Kreator populer Nadya Okamoto, yang memiliki lebih dari 4 juta pengikut, menyebut TikTok AS belum memberikan penjelasan rinci terkait dampak perusahaan gabungan baru terhadap operasional platform.
“Kondisi ini membuat banyak orang paranoid karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Okamoto. Ia mengaku sempat tidak bisa mengunggah video selama 24 jam dan memilih memindahkan kontennya ke Instagram milik Meta serta YouTube milik Google.
Pihak TikTok melalui akun X yang terafiliasi dengan perusahaan gabungan baru menyatakan gangguan layanan disebabkan pemadaman listrik di salah satu pusat data di AS. Perusahaan mengklaim tengah berkoordinasi untuk menstabilkan layanan.
Di tengah gejolak tersebut, minat terhadap aplikasi pesaing TikTok justru melonjak tajam. Sensor Tower mencatat, unduhan aplikasi UpScrolled meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dalam sepekan, Skylight Social melonjak 919 persen, sementara Rednote asal China naik 53 persen secara mingguan.
Hingga berita ini diturunkan, TikTok belum memberikan tanggapan resmi terkait lonjakan penghapusan aplikasi maupun peralihan pengguna ke platform pesaing.
Reporter: Ridho Saputra
Editor: M. Akbar
Media: https://klikjambinew.com/
Tidak ada komentar