Tak Tenang Bergelimang Harta, Konglomerat Buku Gunung Agung Masagung Pilih Mualaf dan Tempuh Jalan Dakwah

waktu baca 2 menit
Minggu, 8 Feb 2026 09:47 187 Admin

Jakarta, KJ-News.com – Nama Masagung atau Tjio Wie Tay dikenal luas sebagai salah satu konglomerat Indonesia keturunan Tionghoa yang sukses membangun kerajaan bisnis Toko Buku Gunung Agung. Namun, di balik kemapanan finansial dan kejayaan usaha, Masagung justru pernah mengalami kegelisahan batin mendalam yang mengubah arah hidupnya secara drastis.

Krisis kesadaran itu terjadi pada era 1970-an, ketika Masagung berusia sekitar 50 tahun. Saat itu, Gunung Agung berada di puncak kejayaan sebagai sentra perdagangan buku terbesar di Indonesia. Bisnisnya tidak hanya mencakup penerbitan dan penjualan buku, tetapi juga merambah sektor pariwisata, perhotelan, hingga penukaran uang.

Kesuksesan tersebut menempatkan Masagung dalam jajaran konglomerat nasional. Meski tidak pernah secara terbuka menyebutkan total kekayaannya, buku Apa dan Siapa? (2004) mencatat besarnya skala usaha Masagung tercermin dari kewajiban pajak yang ditanggung grup bisnisnya.

“Jumlah pajak yang harus dibayarnya secara grup mencapai Rp200 juta, sementara bea cukai sebesar Rp2 miliar, belum termasuk pajak pendapatan dari lebih dari 2.000 karyawan,” tulis buku tersebut.

Alih-alih merasa tenang, limpahan harta justru menimbulkan rasa takut dan kegelisahan. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (2009) menilai kekayaan dan kejayaan tersebut membuat Masagung tidak nyaman, bahkan khawatir menjadi “senjata makan tuan” yang menjauhkannya dari nilai moral dan spiritual.

Di tengah kegundahan itu, Masagung bertemu dengan Tien Fuad Muntaco, sosok yang digambarkan Lombard sebagai figur spiritual dengan latar keilmuan hipnotisme dan telepati. Pertemuan tersebut menjadi titik balik penting dalam perjalanan hidup Masagung.

“Setelah pertemuan itu, ia berada di bawah pengaruh spiritual Ibu Tien dan memutuskan memeluk agama Islam. Sebelumnya, Masagung menganut agama Hindu,” tulis Denys Lombard.

Keputusan menjadi mualaf membawa perubahan besar dalam gaya hidupnya. Akademisi Leo Suryadinata dalam Southeast Asian Personalities of Chinese Descent (2012) mencatat Masagung menjadi pribadi yang lebih religius dan aktif dalam penyebaran ajaran Islam.

Masagung kemudian mendirikan Yayasan Jalan Terang, yang fokus pada pembangunan masjid, rumah sakit, serta museum Wali Songo. Ia juga aktif berdakwah di berbagai masjid di Jakarta serta memanfaatkan jaringan bisnisnya untuk menerbitkan buku-buku bertema Islam.

Denys Lombard menilai perjalanan spiritual Masagung sebagai bagian dari proses pendewasaan hidup. “Setelah mengalami masa muda yang penuh kegelisahan, langkah Masagung merangkul tradisi Jawa dan kebatinan merupakan proses menuju kematangan spiritual,” tulisnya.

Masagung wafat pada 24 September 1990. Ia meninggalkan warisan bukan hanya sebagai konglomerat buku, tetapi juga sebagai figur yang mengalami transformasi spiritual mendalam di puncak kekayaan, sebuah kisah yang hingga kini terus dikenang.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: klikjambinew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA