Dolar AS Tertekan Global, Rupiah Melonjak ke Rp16.768 Jelang Rapat The Fed

waktu baca 2 menit
Selasa, 27 Jan 2026 20:43 131 Admin

Jakarta, (KJ-News.com) – Nilai tukar rupiah melesat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (27/1/2026), didorong melemahnya dolar AS di pasar global serta membaiknya sentimen risiko investor internasional.

Berdasarkan data pasar, rupiah menguat 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp16.768 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di Rp16.782 per dolar AS. Penguatan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap kondisi global yang relatif kondusif.

Namun demikian, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru tercatat melemah ke level Rp16.801 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.779 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva menjelaskan, penguatan rupiah terutama dipengaruhi tekanan terhadap dolar AS di pasar global.

“Penguatan rupiah hari ini lebih mencerminkan respons terhadap sentimen global yang relatif kondusif,” ujar Taufan, dikutip dari ANTARA.

Menurutnya, pergerakan rupiah masih sejalan dengan arah dolar AS dan dinamika sentimen risiko di pasar keuangan global. Melemahnya dolar AS, disertai meningkatnya selera risiko investor, memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah, untuk menguat.

Meski demikian, Taufan menilai penguatan rupiah masih bersifat terbatas. Pasar tetap berhati-hati menanti arah kebijakan moneter global, khususnya menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat dan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berpotensi memicu volatilitas.

Dari sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati faktor kebijakan dan persepsi terhadap kredibilitas otoritas moneter. Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) turut menjadi perhatian, namun dampaknya dinilai bersifat psikologis dan jangka pendek.

“Pelaku pasar valuta asing lebih menimbang isu independensi bank sentral dan konsistensi kebijakan stabilisasi nilai tukar dibandingkan figur personal,” jelas Taufan.

Sementara itu, analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat terbatas, seiring investor bersikap wait and see menjelang keputusan The Fed.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang masih dalam tekanan, namun penguatannya terbatas karena investor menunggu hasil FOMC,” ujar Lukman.

Pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75 persen pada pertemuan pertamanya di tahun 2026, setelah sebelumnya memangkas suku bunga total 75 basis poin sepanjang 2025.

Nada kebijakan The Fed, apakah hawkish atau dovish, dinilai akan menjadi penentu utama arah dolar AS dan pergerakan rupiah dalam waktu dekat. Jika The Fed bersikap dovish, tekanan terhadap dolar AS diperkirakan berlanjut dan berpotensi menopang penguatan rupiah.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: klikjambinew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA