Pidato Terakhir Sekjen PBB Antonio Guterres “Tampar” Pemimpin Dunia, Soroti Krisis Solidaritas Global

waktu baca 2 menit
Jumat, 16 Jan 2026 11:59 176 Admin

KJ-News, Jakarta – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres melontarkan kritik keras kepada para pemimpin dunia dalam pidato tahunan terakhirnya di hadapan Sidang Umum PBB. Ia menilai dunia justru menjauh dari kerja sama internasional di tengah meningkatnya krisis global yang menuntut solidaritas bersama.

Berbicara dalam forum Majelis Umum PBB pada Kamis (15/1/2026) waktu setempat, Guterres menegaskan bahwa perpecahan geopolitik, pelanggaran hukum internasional secara terang-terangan, serta pemangkasan besar-besaran bantuan kemanusiaan telah mengguncang fondasi multilateralisme global.

“Di saat kita paling membutuhkan kerja sama internasional, justru kita tampak paling enggan untuk memanfaatkannya dan berinvestasi di dalamnya. Bahkan ada yang ingin menempatkan kerja sama internasional di ruang tunggu kematian,” ujar Guterres, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (16/1/2026).

Meski tidak menyebut negara secara eksplisit, pernyataan tersebut dinilai mengarah pada kebijakan Amerika Serikat di bawah agenda America First Presiden Donald Trump. Pemerintah AS sebelumnya memangkas kontribusi bantuan kemanusiaan ke lembaga PBB menjadi sekitar US$2 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan kontribusi sebelumnya yang pernah mencapai US$17 miliar.

Situasi tersebut diperparah dengan langkah pembongkaran USAID, lembaga utama bantuan luar negeri AS. Guterres menyebut kebijakan ini sebagai sinyal melemahnya komitmen terhadap solidaritas global, bahkan mendorong lembaga-lembaga PBB untuk “beradaptasi, mengecil, atau mati”.

Sorotan Konflik Global

Dalam pidato penutup masa jabatannya, Guterres menegaskan komitmen PBB untuk terus memperjuangkan perdamaian di sejumlah wilayah konflik utama, termasuk Gaza, Ukraina, dan Sudan. Ia mendesak agar bantuan kemanusiaan dapat mengalir tanpa hambatan ke Gaza, mendorong penghentian perang Rusia–Ukraina, serta menyerukan dimulainya kembali perundingan gencatan senjata permanen di Sudan.

Ketiga konflik berkepanjangan tersebut kerap dipandang sebagai cerminan tantangan terbesar PBB di bawah kepemimpinan Guterres. Kritik pun mencuat bahwa organisasi internasional itu belum cukup efektif dalam mencegah konflik sejak tahap awal.

Guterres juga menyinggung kondisi Dewan Keamanan PBB yang dinilainya kian lumpuh akibat rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat, Rusia, dan China. Ketiga negara anggota tetap dengan hak veto itu kerap saling mengunci keputusan strategis, sehingga menghambat peran PBB dalam menjaga perdamaian dunia.

 

 

Editor: Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA