Pakar Unej: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat Meski Rupiah Melemah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS

waktu baca 3 menit
Minggu, 18 Jan 2026 15:27 165 Admin

KJ-News – Pakar ekonomi Universitas Jember (Unej), Adhitya Wardhono, PhD, menegaskan bahwa kondisi domestik Indonesia masih relatif kuat, meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan dan cenderung melemah dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Adhitya, pelemahan rupiah tidak serta-merta mencerminkan rapuhnya fundamental ekonomi nasional. Indonesia justru masih memiliki bantalan ekonomi yang solid, salah satunya dari sisi cadangan devisa.

“Per akhir Desember 2025, cadangan devisa Indonesia mencapai 156,5 miliar dolar AS, setara sekitar 6,4 bulan impor. Ini merupakan ruang yang sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing sekaligus mempertahankan kepercayaan investor,” ujarnya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (17/1).

Inflasi Terkendali dan Perdagangan Tetap Surplus

Dari sisi stabilitas harga, Adhitya menjelaskan bahwa inflasi tahunan Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen (year on year). Angka tersebut menunjukkan inflasi masih dalam rentang aman, meski tekanan dari pelemahan nilai tukar tetap perlu diantisipasi, terutama terhadap harga barang impor.

Tak hanya itu, kinerja sektor eksternal Indonesia juga dinilai cukup impresif. Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

“Surplus perdagangan Januari hingga November 2025 terutama ditopang oleh surplus sektor nonmigas sebesar 56,15 miliar dolar AS, sementara sektor migas masih defisit 17,61 miliar dolar AS. Ini memperkuat narasi bahwa tekanan rupiah lebih dipicu sentimen global, bukan karena masalah devisa struktural,” jelasnya.

Pemerintah Diminta Perkuat Kredibilitas Kebijakan

Adhitya menilai, dalam menghadapi tekanan nilai tukar, peran pemerintah tidak cukup hanya dengan pernyataan optimistis. Yang lebih penting adalah memperkuat faktor fundamental penopang kepercayaan pasar.

“Pemerintah jangan hanya berperan sebagai pemadam kebakaran. Kuncinya ada pada kredibilitas fiskal, ketersediaan pasokan devisa di dalam negeri (onshore), serta kepastian iklim usaha,” tegasnya.

Menurutnya, kebijakan fiskal dan pembiayaan yang kredibel akan menjadi jangkar kepercayaan pasar. Jika jangkar tersebut kuat, tekanan terhadap rupiah biasanya akan lebih cepat mereda.

Rupiah Melemah Bukan Satu-satunya Indikator Ekonomi

Pakar moneter dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej itu juga mengingatkan agar pelemahan rupiah tidak dibaca secara reaktif. Nilai tukar, kata dia, bukan satu-satunya indikator kesehatan ekonomi.

“Nilai tukar adalah harga yang mencerminkan interaksi faktor global, fundamental domestik, dan ekspektasi pasar. Jadi ini bukan sekadar rupiah melemah, tetapi sinyal bahwa pasar sedang menilai ulang risiko, likuiditas dolar, dan arah kebijakan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa stabilitas dan volatilitas kurs jauh lebih krusial dibanding sekadar level angka tertentu. Kurs yang bergejolak dinilai lebih berbahaya bagi inflasi, investasi, dan dunia usaha dibandingkan pelemahan yang terjadi secara terukur.

“Volatilitas kurs dapat mengganggu perencanaan impor bahan baku, meningkatkan biaya lindung nilai (hedging), dan membuat investor menunda keputusan bisnis,” pungkasnya.

Kesimpulan

Meski rupiah mendekati level Rp17.000 per dolar AS, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat. Tantangan utama ke depan bukan sekadar menahan pelemahan, tetapi menjaga stabilitas agar tekanan nilai tukar tidak berkembang menjadi gejolak yang merusak ekonomi nasional.

 

 

Editor: Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA