KPAI: Sekolah Siswa SD di Ngada Diduga Pungut Sumbangan Rp1 Juta per Anak

waktu baca 2 menit
Sabtu, 7 Feb 2026 06:55 171 Admin

Jakarta, KJ-News.com (07/02/2026) – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap dugaan bahwa pihak sekolah tempat seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya, memungut sumbangan sebesar Rp1 juta per anak.

Anggota KPAI Diyah Puspitarini mengatakan, sumbangan tersebut merupakan hasil kesepakatan antara pihak sekolah dan komite sekolah, serta dikategorikan sebagai uang komite.

“Memang ada sumbangan senilai Rp1 juta dan itu merupakan sumbangan yang disepakati oleh sekolah dan komite. Uang ini uang komite,” ujar Diyah saat dihubungi di Jakarta, Jumat (6/2).

Namun demikian, KPAI menerima informasi dari orang tua murid yang menyebutkan adanya dugaan pengumuman di sekolah terkait nama anak-anak yang belum membayar sumbangan tersebut, meski pihak sekolah membantah pembicaraan dilakukan di hadapan siswa.

Atas dugaan tersebut, KPAI meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk melakukan pengecekan dan klarifikasi secara menyeluruh, termasuk mendalami keterangan dari orang tua siswa.

“Meskipun informasi dari sekolah menyatakan tidak ada pembicaraan sumbangan di depan anak, kami meminta Kemendikdasmen untuk mengecek kebenaran ini. Orang tua menyampaikan adanya pengumuman terkait siswa yang belum membayar,” kata Diyah.

Kronologi Kasus

Sebelumnya, pada Kamis (29/1), seorang siswa kelas 4 SD Negeri berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia di Kabupaten Ngada, NTT. Korban diketahui meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya.

Korban selama ini tinggal bersama neneknya yang telah lanjut usia, sementara sang ibu berinisial MGT (47) tinggal di kampung lain bersama dua anak lainnya. Dua saudara tiri korban diketahui telah dewasa dan merantau ke Papua serta Kalimantan.

Ibu korban menjadi tulang punggung keluarga dengan menafkahi lima anak. Korban merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ayah kandung korban diketahui merantau sejak korban masih dalam kandungan dan hingga kini tidak pernah kembali.

KPAI menegaskan pentingnya lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari tekanan, terutama bagi anak-anak yang berasal dari keluarga rentan, agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang.

 

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: klikjambinew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA