KJN, Jambi – Kondisi hutan mangrove di wilayah pesisir Pantai Timur Provinsi Jambi, khususnya di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Kerusakan yang terus terjadi dinilai berpotensi memperparah banjir rob akibat pasang air laut jika tidak segera dilakukan upaya pemulihan secara serius dan berkelanjutan.
Aktivis lingkungan dari Komunitas Pemuda Pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Muhammad Atta, menegaskan bahwa ekosistem mangrove memiliki peran vital sebagai benteng alami kawasan pesisir. Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai habitat biota laut, tetapi juga menjadi penyangga utama kehidupan masyarakat pesisir, terutama nelayan.
“Ekosistem mangrove adalah ruang hidup masyarakat pesisir. Selain menjaga keseimbangan ekologi laut, mangrove juga menjadi sumber penghidupan bagi nelayan dan warga sekitar,” kata Muhammad Atta.
Ia menambahkan, kerusakan mangrove secara langsung berdampak pada sendi-sendi kehidupan masyarakat pesisir. Hilangnya mangrove membuat wilayah pesisir semakin rentan terhadap abrasi dan banjir rob yang kian sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan kawasan mangrove yang rusak agar ancaman bencana tidak semakin meluas. “Jika pemulihan tidak segera dilakukan, kondisi mangrove akan terus berada dalam situasi kritis dan dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Sebagai contoh keberhasilan, Atta menyebut upaya masyarakat Pangkal Babu, Desa Tungkal Satu, yang secara swadaya menjaga dan merawat ekosistem mangrove. Keberadaan mangrove di wilayah tersebut terbukti mampu menahan abrasi, sehingga lahan pertanian dan perkebunan warga tetap dapat dimanfaatkan secara produktif.
Sementara itu, data lapangan menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir sejumlah kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat kerap dilanda banjir pasang air laut. Banjir rob tidak hanya menggenangi permukiman warga, tetapi juga merendam kebun dan sawah, yang berujung pada kegagalan panen dan kerugian ekonomi bagi petani.
Masyarakat pesisir berharap pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait segera memperkuat program rehabilitasi mangrove, agar fungsi ekologis kawasan pesisir dapat kembali pulih dan ancaman banjir rob dapat diminimalkan.
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar