Jakarta, (KJ-News.com) – Hasan Nasbi menegaskan pentingnya menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika global yang kian kompleks, dengan mengedepankan persatuan serta penghormatan terhadap proses demokrasi yang sah.
Ia mengingatkan bahwa demokrasi telah menyediakan mekanisme yang jelas dan konstitusional dalam pergantian kekuasaan, yakni melalui pemilihan umum atau Pemilu.
“Dalam demokrasi, perebutan kekuasaan difasilitasi melalui pemilu. Bukan dengan cara-cara provokatif yang berpotensi memecah belah masyarakat,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Selasa (7/4/2026).
Hasan menilai, situasi global saat ini sedang tidak stabil, mulai dari tekanan ekonomi dunia hingga konflik internasional. Dalam kondisi tersebut, ia menekankan bahwa bangsa Indonesia justru harus memperkuat soliditas internal, bukan memperkeruh suasana dengan narasi provokasi.
Ia juga menyoroti adanya upaya mendorong delegitimasi pemerintah di luar jalur demokrasi, yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip-prinsip konstitusional.
“Kalau tidak ada pelanggaran hukum atau konstitusi, maka ajakan untuk menjatuhkan pemerintah hanya karena perbedaan pilihan politik tidak bisa dibenarkan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Hasan menyayangkan munculnya narasi provokatif dari kalangan yang seharusnya memahami demokrasi secara akademis, termasuk dari pakar ilmu politik. Menurutnya, hal tersebut justru berpotensi menyesatkan opini publik.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa kritik tetap menjadi bagian penting dalam demokrasi. Namun, kritik harus disampaikan secara konstruktif dan tidak mengarah pada upaya menciptakan instabilitas politik.
“Demokrasi menjamin kebebasan berpendapat, tetapi tetap harus berada dalam koridor hukum dan konstitusi,” tambahnya.
Hasan pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga suasana kondusif, terlebih di tengah tantangan global yang membutuhkan stabilitas nasional sebagai fondasi utama pembangunan.
Tidak ada komentar