Jakarta, KJ-News.com (16/02/2026) – Gelombang perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diperkirakan akan membawa perubahan besar pada pasar tenaga kerja global. CEO AI di Microsoft, Mustafa Suleyman, memprediksi sebagian besar pekerjaan kantoran (white collar) akan mengalami otomatisasi dalam kurun 12 hingga 18 bulan ke depan.
Menurut Suleyman, kemampuan model AI saat ini telah mendekati level “setara manusia” dalam menjalankan berbagai tugas profesional, mulai dari analisis data, penulisan laporan, hingga pengelolaan proyek.
Ia menyebut sejumlah profesi seperti pengacara, akuntan, manajer proyek, dan tenaga pemasaran berpotensi mengalami transformasi besar karena sebagian tugasnya dapat dikerjakan sepenuhnya oleh sistem AI.
Kekhawatiran Global Mulai Meningkat
Prediksi tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku industri dan investor terhadap dampak AI terhadap lapangan kerja. Kekhawatiran ini semakin menguat setelah perusahaan teknologi seperti Anthropic meluncurkan agen AI yang mampu menangani tugas profesional kompleks.
CEO Anthropic, Dario Amodei, bahkan memperkirakan teknologi AI berpotensi menghapus hingga 50 persen pekerjaan entry-level white collar dalam beberapa tahun ke depan.
Pandangan serupa juga disampaikan CEO OpenAI, Sam Altman, yang menilai AI akan menghilangkan sejumlah kategori pekerjaan, sekaligus menciptakan jenis profesi baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Peran Manusia Bergeser, Bukan Hilang Sepenuhnya
Di sektor rekayasa perangkat lunak, perubahan sudah mulai terasa. Banyak pengembang kini menggunakan AI untuk menghasilkan sebagian besar kode, sementara peran manusia bergeser ke tahap strategis seperti:
Microsoft bahkan mengklaim lebih dari seperempat kode internal perusahaan telah ditulis dengan bantuan AI.
Namun sejumlah penelitian menunjukkan hasil kerja AI masih memerlukan pemeriksaan berulang oleh manusia guna memastikan akurasi, keamanan, dan kepatuhan terhadap standar profesional.
Fenomena “AI Washing” Jadi Sorotan
Di sisi lain, muncul fenomena yang disebut AI washing, yaitu penggunaan narasi transformasi AI oleh sebagian perusahaan sebagai alasan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.
Artinya, transformasi ini bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga strategi bisnis dan adaptasi model kerja baru.
Dampak bagi Indonesia dan Daerah
Bagi Indonesia, termasuk daerah yang tengah mempercepat digitalisasi ekonomi, perkembangan AI menjadi tantangan sekaligus peluang.
Transformasi ini menuntut:
Para ahli menilai pekerjaan tidak sepenuhnya hilang, tetapi akan berubah bentuk—dari pekerjaan administratif rutin menuju pekerjaan yang menuntut kreativitas, analisis, dan pengambilan keputusan.
Transformasi Tak Terelakkan
Perkembangan AI kini tidak lagi dipandang sebagai wacana masa depan, melainkan proses yang sedang berlangsung dan akan semakin cepat.
Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengubah dunia kerja, tetapi seberapa cepat manusia, industri, dan pemerintah mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Reporter: Ridho Saputra
Editor: M. Akbar
Media: klikjambinew.com
Tidak ada komentar