Alarm Ekspor RI 2026: Permintaan Global Melemah, Surplus Terancam Menyusut

waktu baca 2 menit
Selasa, 13 Jan 2026 09:10 161 Admin

 

KJN, Jakarta – Kinerja ekspor Indonesia diproyeksikan menghadapi tekanan berat pada 2026, seiring melemahnya permintaan global dan normalisasi impor dari negara mitra dagang utama. Kondisi ini berpotensi menggerus surplus neraca perdagangan yang selama ini terjaga selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

 

Chief Economist Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menilai perlambatan ekspor dipicu oleh menumpuknya stok barang di Amerika Serikat setelah fenomena front running impor pada 2025. Saat itu, para importir AS mempercepat pembelian dari Indonesia untuk mengantisipasi kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald Trump yang pada akhirnya tidak kunjung diterapkan.

 

“Importir AS sempat mempercepat impor karena khawatir tarif diberlakukan. Namun kebijakan itu terus tertunda, sehingga stok barang di sana kini cukup menumpuk. Dampaknya, pada kuartal I 2026 permintaan tidak lagi agresif,” ujar David saat ditemui di Jakarta, Senin (12/1/2026).

 

Tekanan ekspor juga diperparah oleh pergerakan harga komoditas global yang belum menunjukkan pemulihan signifikan. Data menunjukkan, pada November 2025, nilai ekspor Indonesia tercatat turun 6,60% secara tahunan menjadi US$22,52 miliar, dari sebelumnya US$24,11 miliar pada periode yang sama tahun 2024.

 

Penurunan terjadi di seluruh sektor ekspor. Sektor migas mencatat kontraksi terdalam sebesar 32,88%, sementara ekspor nonmigas turun 5,09%. Dari nonmigas, penurunan terbesar berasal dari sektor pertambangan yang anjlok 22,28%, disusul pertanian 6,09%, dan industri pengolahan 1,46%.

 

Dari sisi eksternal, perlambatan ekonomi China turut menjadi faktor penekan. Sebagai tujuan utama ekspor Indonesia, pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu dinilai masih terbatas hingga 2026, sehingga berpotensi menurunkan permintaan komoditas unggulan Indonesia seperti nikel dan batu bara.

 

“Konsensus lembaga internasional melihat ekonomi China masih melambat tahun depan. Ini membuat pemulihan harga komoditas cenderung terbatas,” kata Victor George Petrus Matindas, Head of Banking Research and Analytics Economy BCA.

 

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor 7,09% pada 2026, sedikit lebih rendah dibanding target 2025 sebesar 7,1%. Menurutnya, penyesuaian ini bukan mencerminkan pelemahan, melainkan efek basis pertumbuhan ekspor yang sudah tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

 

“Target memang turun tipis karena titik awalnya sudah tinggi. Namun ini tetap sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju 8%,” tegas Budi.

 

Meski tantangan global kian besar, pemerintah tetap optimistis ekspor dapat tumbuh dengan dukungan implementasi berbagai perjanjian dagang internasional yang mulai berlaku penuh pada 2026. Langkah ini diharapkan mampu membuka pasar baru dan menjaga kinerja perdagangan Indonesia di tengah tekanan ekonomi global.

 

 

Editor: Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA