KJN – (30/12/2025) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan integrasi data dan informasi cuaca berjalan optimal untuk mendukung keselamatan penerbangan selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Kepastian tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, saat melakukan kunjungan kerja ke Posko Utama Angkutan Nataru di Bandara Internasional Soekarno-Hatta serta Stasiun Meteorologi Kelas I Soekarno-Hatta, Senin (29/12/2025).
Kunjungan ini bertujuan meninjau kesiapan posko menghadapi lonjakan lalu lintas penerbangan akhir tahun, sekaligus memperkuat koordinasi lintas instansi di lingkungan bandara. Dalam peninjauan tersebut, Kepala BMKG berdialog langsung dengan para pemangku kepentingan utama sektor penerbangan.
Turut hadir dalam pertemuan itu Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama Soekarno-Hatta Putu Eka Cahyadhi, General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Soekarno-Hatta Heru Karyadi, Kepala Kantor SAR Jakarta Desiana Kartika Bahari, serta General Manager Perum LPPNPI (AirNav Indonesia) Cabang Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC) Muji Soebagyo.
Dalam kesempatan tersebut, dibahas mekanisme pemanfaatan data dan informasi cuaca BMKG yang digunakan dalam briefing operasional Airport Operation Control Center (AOCC). BMKG secara rutin menyajikan prakiraan cuaca hingga 24 jam ke depan sebagai dasar perencanaan operasional bandara.
Informasi cuaca untuk kebutuhan lepas landas dan pendaratan pesawat diperbarui setiap 30 menit. Apabila terdeteksi potensi perubahan cuaca signifikan dalam dua jam ke depan, BMKG akan segera menerbitkan Special Report.
Melalui laporan khusus tersebut, AOCC bersama Angkasa Pura dan AirNav Indonesia dapat segera mengambil langkah antisipasi dan mitigasi guna menjaga keselamatan serta kelancaran operasional penerbangan.
Untuk menjamin akurasi data, BMKG telah menempatkan Automatic Weather Observing System (AWOS) Kategori 3 di setiap landas pacu Bandara Soekarno-Hatta. Data dari perangkat ini diolah menjadi informasi cuaca penerbangan lengkap atau METAR, yang mencakup kondisi cuaca di bandara asal, tujuan, hingga sepanjang rute penerbangan.
“Informasi ini menjadi dasar penting bagi pilot, AirNav, dan maskapai dalam menentukan keputusan go or no go pada setiap penerbangan,” jelas Faisal.
Selain keselamatan penerbangan, Kepala BMKG juga menyoroti kesiapan menghadapi potensi cuaca ekstrem di wilayah DKI Jakarta, khususnya menjelang malam pergantian tahun. BMKG terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar setiap kebijakan dan langkah antisipasi berbasis data cuaca yang akurat.
Rangkaian kunjungan dilanjutkan dengan pemeriksaan peralatan operasional utama di Stasiun Meteorologi Kelas I Soekarno-Hatta. Pengecekan ini dilakukan untuk memastikan seluruh instrumen berfungsi optimal dalam menyediakan data cuaca yang andal dan berkesinambungan.
Dalam arahannya, Faisal menegaskan bahwa peran BMKG tidak hanya terbatas pada penyampaian informasi cuaca dan peringatan dini, tetapi juga sebagai institusi pendukung pembangunan lintas sektor nasional.
“Tugas utama BMKG bukan hanya menyediakan informasi cuaca, peringatan dini cuaca ekstrem, serta gempa dan tsunami, tetapi juga mendukung pembangunan di seluruh sektor,” ujarnya.
Ia menambahkan, data dan informasi BMKG menjadi fondasi penting bagi berbagai sektor strategis, mulai dari keselamatan transportasi, dukungan swasembada pangan melalui penentuan musim tanam, hingga penguatan ketahanan air nasional dengan pemantauan debit di 225 bendungan di seluruh Indonesia. BMKG juga menyediakan proyeksi iklim hingga 30 tahun ke depan untuk mendukung perencanaan pembangunan jangka panjang.
Melalui penguatan sistem observasi, integrasi data, dan kolaborasi lintas sektor, BMKG berkomitmen menghadirkan layanan informasi cuaca yang akurat dan tepat waktu demi keselamatan publik serta pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Editor : Redaksi KJN
Tidak ada komentar