KJN, Jambi – Wabah penyakit Septicemia Epizootica (SE) atau yang dikenal sebagai penyakit ngorok kembali menyerang hewan ternak di Kabupaten Batang Hari, Jambi. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 140 ekor kerbau teridentifikasi terjangkit penyakit menular berbahaya tersebut, dengan 53 ekor di antaranya dilaporkan mati.
Penyebaran penyakit SE ini kembali menjadi ancaman serius bagi para peternak, khususnya peternak kerbau yang masih menerapkan sistem penggembalaan lepas. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Batang Hari, Afrizal, menyebutkan dari total ternak yang terdata terserang, selain yang mati, 42 ekor terpaksa dilakukan pemotongan paksa, sementara 45 ekor lainnya dijual oleh pemiliknya dengan harga di bawah normal guna menghindari kerugian lebih besar.
Menurut Afrizal, kasus penyakit ngorok ini ditemukan tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Batin XXIV, terutama di Desa Jelutih, Kecamatan Muara Tembesi, serta Kecamatan Muara Bulian. Mayoritas ternak yang terjangkit merupakan kerbau yang dilepasliarkan tanpa pengawasan intensif, sehingga rentan tertular penyakit.
Ia menjelaskan, penyakit Septicemia Epizootica merupakan infeksi bakteri yang dapat menyerang ternak besar secara cepat dan mematikan, terutama saat kondisi cuaca lembap dan daya tahan tubuh hewan menurun. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau para peternak untuk meningkatkan kewaspadaan, membatasi penggembalaan bebas, serta segera melaporkan jika menemukan gejala penyakit pada ternaknya.
Pemerintah daerah melalui dinas terkait terus melakukan pemantauan, penanganan, serta upaya pencegahan agar penyebaran penyakit tidak meluas dan tidak semakin merugikan peternak di wilayah Batang Hari.
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar