KJ-News , Jakarta – Masalah perut buncit banyak dialami pria dan kerap dianggap sekadar mengganggu penampilan. Padahal, menurut pakar kesehatan, kondisi ini menyimpan risiko serius bagi kesehatan dan dapat berujung pada penyakit mematikan.
Pakar Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH, menjelaskan bahwa perut buncit termasuk dalam kategori obesitas sentral, yakni penumpukan lemak berlebih yang terfokus di area perut. Kondisi ini jauh lebih berbahaya dibandingkan penumpukan lemak di bagian tubuh lain.
Secara biologis, distribusi lemak pada pria dan perempuan memang berbeda. Pada perempuan, hormon estrogen membuat lemak cenderung tersebar di berbagai bagian tubuh seperti lengan, paha, pinggul, hingga perut. Sementara pada pria, ketiadaan hormon estrogen menyebabkan lemak lebih mudah menumpuk di area perut.
“Obesitas sentral sangat berkaitan dengan sindrom metabolik, karena lemak viseral di perut memengaruhi kerja organ dan metabolisme tubuh,” kata Mirza, dikutip dari laman resmi UGM, Sabtu (17/1/2026).
Sindrom metabolik ditandai dengan sejumlah gangguan kesehatan, seperti peningkatan gula darah, tekanan darah tinggi, serta kadar kolesterol yang tidak normal. Jika dibiarkan, kondisi ini meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan hipertensi.
“Ketika parameter biokimia darah sudah bermasalah, maka risiko munculnya berbagai penyakit kronis meningkat, bahkan dapat berujung pada kematian,” tegas Mirza.
Obesitas sentral umumnya mulai muncul pada usia di atas 40 tahun, terutama dipengaruhi oleh perubahan hormon dan perlambatan metabolisme. Namun, perut buncit juga bisa terjadi sejak usia muda akibat gaya hidup tidak sehat, seperti kurang aktivitas fisik serta pola makan tinggi gula, garam, dan lemak.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Mirza menekankan pentingnya membangun pola pikir yang benar sebelum memulai program penurunan berat badan. Menurutnya, kesadaran untuk berubah menjadi kunci utama keberhasilan.
“Mindset yang harus dibangun adalah ini titik balik saya untuk berubah. Tanpa itu, program diet sebaik apa pun tidak akan berjalan,” ujarnya.
Selain itu, pola makan perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan tubuh. Ia menyarankan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak, serta memperbanyak asupan buah dan sayur. Aktivitas fisik rutin juga menjadi faktor penting dalam menekan risiko obesitas sentral.
Mirza menambahkan, perbedaan metabolisme berdasarkan usia membuat strategi penurunan berat badan juga berbeda. Pada usia muda, perbaikan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik sudah cukup efektif. Namun pada usia di atas 40 tahun, diperlukan strategi tambahan seperti pengaturan jendela makan atau intermittent fasting, yang tetap harus dilakukan secara aman.
Ia mengingatkan bahwa setiap upaya penurunan berat badan bersifat individual dan sebaiknya dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan profesional, mengingat kondisi tubuh dan riwayat kesehatan setiap orang berbeda.
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar