Foto: (Andi Gusrial Mahrulzah) Penampung udang ketak memperlihatkan hasil tangkapan nelayan di gudang penampungannya di Kecamatan Kuala Jambi Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Tanjab Timur, KJ-News.com – Harga udang ketak atau udang mantis asal Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, mengalami lonjakan tajam sejak pertengahan Januari 2026. Kenaikan harga komoditas laut yang juga dikenal sebagai udang nenek atau udang ronggeng ini dipicu meningkatnya permintaan pasar menjelang perayaan Imlek dan Cap Go Meh, khususnya dari Jambi dan Jakarta.
Penampung udang ketak di Kecamatan Kuala Jambi, Andi Gusrial Mahrulzah atau akrab disapa Rial, mengatakan kenaikan harga terjadi hampir di semua ukuran, mulai dari kecil hingga premium.
Untuk ukuran kecil hingga sedang, harga udang ketak kini berada di kisaran Rp2.000 hingga Rp5.000 per ekor. Rinciannya, ukuran B Rp2.000, ukuran A Rp3.000, ukuran TK Rp4.000, dan ukuran UB Rp5.000 per ekor.
Sementara itu, udang ketak ukuran besar mengalami lonjakan signifikan. Ukuran AA dijual Rp10.000 per ekor, SP Rp20.000, SPA Rp30.000, dan SPAA mencapai Rp40.000 per ekor.
Harga tertinggi tercatat pada ukuran premium. Untuk ukuran XXL dibanderol Rp55.000 per ekor, XL Rp60.000, XXXL Rp130.000, hingga ukuran Jumbo yang menembus Rp170.000 per ekor.
“Sejak pertengahan Januari harga sudah mulai naik. Memang sempat turun, tapi hanya sekitar Rp10 ribu, sekarang kembali naik,” ujar Rial, Minggu (8/2/2026).
Udang ketak dengan nama latin Squilla ini sebagian besar berasal dari wilayah Kampung Laut, Tanjabtim. Hasil tangkapan nelayan setempat kemudian didistribusikan ke berbagai daerah, terutama Jambi dan Jakarta, untuk memenuhi kebutuhan restoran dan pasar tertentu.
Menurut Rial, lonjakan harga terjadi karena tingginya permintaan menjelang hari besar keagamaan, sementara pasokan sangat bergantung pada hasil tangkapan nelayan yang dipengaruhi kondisi cuaca dan alam.
Meski demikian, kondisi ini dinilai membawa dampak positif bagi nelayan pesisir.
“Penghasilan nelayan cukup lumayan karena permintaan sedang tinggi,” katanya.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, puncak harga udang ketak biasanya terjadi pada bulan Maret. Bahkan, sejumlah pembeli di Jakarta memprediksi harga masih berpotensi kembali naik dalam waktu dekat.
“Harapannya cuaca tetap mendukung agar hasil tangkapan stabil, sehingga momentum kenaikan harga ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan,” tutup Rial.
Reporter: Ridho Saputra
Editor: M. Akbar
Media: klikjambinew.com
Tidak ada komentar