Obat Nyamuk Bakar RI Laris di Meksiko, Ekspor Tembus US$ 8,2 Juta

waktu baca 2 menit
Sabtu, 3 Jan 2026 13:55 57 Admin

 

KJN, Jakarta – Produk obat nyamuk bakar asal Indonesia ternyata memiliki daya saing kuat di pasar global. Sepanjang Januari hingga Juni 2025, nilai ekspor obat nyamuk jenis coil dari Indonesia mencapai US$ 8,225 juta, tumbuh 1,25% secara tahunan (year-on-year/yoy).

 

Berdasarkan klasifikasi perdagangan internasional HS 38086110, produk ini termasuk dalam kategori mosquito repellent coils untuk penjualan ritel dengan berat bersih maksimal 300 gram. Data menunjukkan, Meksiko menjadi tujuan ekspor terbesar, dengan nilai mencapai sekitar US$ 7,53 juta dalam semester pertama 2025.

 

Selain Meksiko, obat nyamuk bakar produksi Indonesia juga diminati di sejumlah negara lain, seperti Taiwan, Afrika Selatan, Mauritius, serta beberapa negara di kawasan Asia Tenggara dan Amerika Latin. Capaian ini menegaskan tingginya permintaan global terhadap produk anti-nyamuk buatan dalam negeri.

 

Berbeda dengan komoditas mentah, obat nyamuk coil merupakan produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Bahan bakunya memanfaatkan sumber daya lokal, seperti serbuk kayu, tepung kulit kelapa, dan pati, yang dipadukan dengan senyawa insektisida aktif seperti pyrethrum atau turunannya, termasuk prallethrin.

 

Seluruh bahan tersebut diproses melalui tahapan pencetakan spiral, pengeringan, hingga pengemasan ritel. Hasilnya adalah produk yang mampu terbakar perlahan dan menghasilkan asap berinsektisida untuk mengusir nyamuk secara efektif, khususnya di area terbuka.

 

Karakteristik ini membuat obat nyamuk coil sangat relevan di wilayah tropis dan subtropis, tempat penyakit berbasis vektor seperti malaria dan demam berdarah masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Negara-negara seperti Meksiko dan Afrika Selatan mencatatkan permintaan tinggi seiring kondisi iklim dan kebutuhan akan produk perlindungan yang terjangkau serta mudah digunakan.

 

Secara global, Indonesia menempati posisi strategis sebagai salah satu eksportir utama obat nyamuk coil, bersaing dengan China dan Malaysia. Bahkan, pasar potensial di Afrika Timur seperti Tanzania, Uganda, dan Pantai Gading terus berkembang karena masih mengandalkan produk pembakaran tradisional.

 

Keberhasilan ekspor ini tidak lepas dari harga kompetitif, kualitas produk, serta kepatuhan produsen terhadap standar mutu dan regulasi negara tujuan, termasuk ketentuan bahan aktif dan emisi asap. Produsen nasional juga terus menyesuaikan desain kemasan agar sesuai dengan preferensi pasar internasional.

 

Ke depan, prospek ekspor obat nyamuk bakar Indonesia masih terbuka lebar. Pertumbuhan penduduk di negara beriklim tropis serta meningkatnya kesadaran akan pencegahan penyakit diperkirakan terus mendorong permintaan global. Meski demikian, pelaku industri dihadapkan pada tantangan inovasi, terutama dalam pengembangan produk rendah asap dan berbahan ramah lingkungan.

 

 

Editor: Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA