Ekonom Ingatkan Persepsi Pasar atas Kebijakan BI Jadi Penentu Stabilitas Rupiah

waktu baca 2 menit
Selasa, 27 Jan 2026 09:49 84 Admin

Jakarta, (KJ-News.com) – Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menegaskan bahwa persepsi pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia (BI) menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah tren pelemahan mata uang nasional sejak awal tahun.

Wijayanto mengingatkan, salah satu risiko utama yang perlu diantisipasi adalah stabilitas fiskal serta independensi kebijakan moneter BI, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi dominasi kepentingan fiskal dalam pengambilan kebijakan moneter.

“Tren pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal tahun dan berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Faktor paling krusial yang harus diantisipasi adalah stabilitas fiskal serta kebijakan moneter yang semakin didominasi kepentingan fiskal atau fiscal dominance,” ujar Wijayanto kepada ANTARA, Senin.

Terkait terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, Wijayanto menilai bahwa yang bersangkutan perlu segera membuktikan kapasitas dan kredibilitasnya guna menjaga sentimen positif pasar, sekaligus memastikan persepsi terhadap independensi BI tetap terjaga.

“Sentimen yang muncul saat ini cenderung bersifat temporer. Namun, Thomas harus mampu membuktikan kapasitasnya dan memastikan kehadirannya tidak memperburuk citra BI, khususnya terkait independensi kebijakan moneter,” tegasnya.

Wijayanto juga mengingatkan agar pelemahan rupiah tidak dilihat secara sempit hanya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, dolar AS sendiri mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang utama dunia dalam setahun terakhir.

Sebagai ilustrasi, dolar AS tercatat melemah hampir 10 persen terhadap tujuh mata uang utama dunia. Namun, jika rupiah dibandingkan dengan basket currency tersebut, depresiasi rupiah justru mendekati 14 persen.

“Kondisi ini tentu tidak boleh dianggap enteng dan perlu direspons dengan kebijakan yang tepat serta komunikasi yang kuat dari otoritas moneter,” tambahnya.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, tercatat menguat tipis 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp16.780 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.782 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Senin sore, rupiah juga menguat 38 poin atau 0,23 persen.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah dipengaruhi oleh respons positif pasar terhadap komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

“Pasar merespons positif langkah BI yang melakukan intervensi besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot guna menahan volatilitas rupiah,” jelas Ibrahim.

Ke depan, konsistensi kebijakan moneter, komunikasi yang jelas, serta sinergi fiskal–moneter yang sehat dinilai menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pasar dan menahan tekanan terhadap rupiah.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: klikjambinew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA