Jakarta, KJ-News.com (16/02/2026) – Sebuah penelitian psikologi mengungkap temuan menarik tentang hubungan antara preferensi rasa makanan dan kecenderungan sifat kepribadian tertentu. Studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Innsbruck menunjukkan bahwa kesukaan terhadap rasa pahit dapat berkorelasi dengan ciri kepribadian antisosial atau Antisocial Personality Disorder (ASPD).
Penelitian tersebut melibatkan 935 responden yang diminta menilai tingkat kesukaan mereka terhadap rasa manis, asam, asin, dan pahit. Para peserta juga menjalani serangkaian tes psikologis untuk mengukur karakteristik seperti agresivitas, narsisme, manipulatif, hingga kecenderungan sadisme.
Rasa Pahit Disebut Berkorelasi dengan Sifat Antisosial
Hasil penelitian menemukan bahwa individu yang memiliki preferensi tinggi terhadap makanan atau minuman pahit menunjukkan korelasi positif dengan perilaku yang lebih keras, kurang empati, dan cenderung sadistis dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa contoh makanan dan minuman bercita rasa pahit yang dianalisis antara lain:
Sebaliknya, individu yang cenderung ramah dan kooperatif lebih banyak menyukai rasa manis seperti cokelat atau permen.
Peneliti menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti makanan tertentu “menyebabkan” seseorang menjadi psikopat, melainkan menunjukkan adanya hubungan statistik antara preferensi rasa dan pola kepribadian.
Istilah “Psikopat” Bukan Diagnosis Medis Resmi
Dalam dunia kesehatan mental, istilah psikopat sebenarnya bukan diagnosis klinis. Kondisi yang dimaksud secara ilmiah dikenal sebagai Antisocial Personality Disorder (ASPD), yakni gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola mengabaikan norma sosial dan hak orang lain.
Kriteria diagnostik gangguan ini dijelaskan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), yang digunakan secara luas oleh profesional kesehatan mental.
Tanda-tanda Kepribadian Antisosial yang Perlu Diwaspadai
Para ahli menyebutkan bahwa ASPD memiliki sejumlah indikator perilaku, di antaranya:
1. Mengabaikan norma sosial dan hak orang lain
Penderita cenderung tidak peduli terhadap aturan, bahkan melakukan tindakan yang merugikan orang lain tanpa merasa bersalah.
2. Manipulatif dan sering berbohong
Kebohongan digunakan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, baik secara finansial, emosional, maupun sosial.
3. Mudah agresif atau tersinggung
Agresi tidak selalu fisik, tetapi juga dapat berupa kekerasan verbal atau tekanan psikologis.
4. Bertindak impulsif tanpa mempertimbangkan risiko
Keputusan diambil secara spontan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.
5. Tidak memiliki rasa penyesalan
Individu dengan ASPD kerap merasionalisasi tindakan yang merugikan orang lain dan tidak merasa bersalah.
Penelitian Masih Perlu Ditafsirkan Secara Hati-Hati
Para pakar mengingatkan bahwa preferensi makanan tidak dapat dijadikan alat diagnosis. Hubungan yang ditemukan bersifat korelasional, bukan sebab-akibat. Banyak faktor lain seperti lingkungan, pengalaman hidup, dan kondisi biologis yang jauh lebih berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian.
Temuan ini lebih tepat dipahami sebagai wawasan ilmiah mengenai bagaimana aspek biologis—termasuk persepsi rasa—dapat berkaitan dengan karakter psikologis manusia.
Pentingnya Literasi Kesehatan Mental
Ahli kesehatan mental menekankan agar masyarakat tidak mudah memberi label “psikopat” kepada seseorang. Diagnosis hanya dapat ditegakkan melalui evaluasi profesional yang komprehensif, bukan berdasarkan kebiasaan makan atau perilaku sehari-hari semata.
Penelitian ini justru membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya memahami kesehatan mental secara ilmiah dan menghindari stigma terhadap individu dengan gangguan kepribadian.
Reporter: Ridho Saputra
Editor: M. Akbar
Media: klikjambinew.com
Tidak ada komentar