Awal Puasa Ramadan 2026 Diperkirakan Februari, Ini Perbedaan Versi Pemerintah dan Muhammadiyah

waktu baca 2 menit
Sabtu, 3 Jan 2026 07:27 202 Admin

 

KJN, Jakarta – Umat Islam kembali bersiap menyambut ibadah puasa Ramadan pada 2026. Penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah menjadi perhatian, mengingat perbedaan metode penetapan antara pemerintah dan organisasi keagamaan.

 

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 atau Kamis, 19 Februari 2026. Kepastian tanggal tersebut akan ditetapkan melalui Sidang Isbat yang digelar pada akhir bulan Sya’ban.

 

Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal Ramadan 1447 H. Mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini berdasarkan kriteria astronomi berupa ketinggian bulan minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.

 

Perkiraan Ramadan 2026 yang jatuh pada Februari menunjukkan karakter kalender Hijriah yang terus bergeser lebih awal setiap tahun. Kalender Hijriah didasarkan pada peredaran bulan dan penampakan hilal setelah konjungsi (ijtimak), dengan pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam.

 

Berbeda dengan kalender Masehi yang memiliki 12 bulan berdurasi 29 hingga 31 hari dan menetapkan pergantian hari pada pukul 00.00, kalender Hijriah hanya terdiri dari bulan berdurasi 29 atau 30 hari. Akibatnya, jumlah hari dalam satu tahun Hijriah lebih pendek dibandingkan kalender Masehi.

 

Fenomena menarik sempat terjadi pada Ramadan 2025, ketika awal Ramadan bertepatan dengan awal bulan Masehi, yakni 1 Maret 2025. Pada tahun tersebut, umat Islam baik dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah memulai puasa pada tanggal yang sama.

 

Dengan mendekatnya Ramadan 2026, pemerintah mengimbau masyarakat menunggu hasil Sidang Isbat sebagai penetapan resmi, sembari tetap menghormati perbedaan metode penentuan awal bulan yang berlaku di masing-masing organisasi keagamaan.

 

Editor:  Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA