Rupiah Melemah ke Rekor Terendah terhadap Ringgit dan Dolar Singapura, Tekanan Valas Regional Meningkat

waktu baca 2 menit
Kamis, 12 Feb 2026 11:36 170 Admin

Jakarta, KJ-News.com – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan pelemahan dan menyentuh level terendah sepanjang sejarah terhadap mata uang regional, khususnya ringgit Malaysia (MYR) dan dolar Singapura (SGD), pada perdagangan Kamis (12/2/2026).

Berdasarkan data pasar valuta asing pada pukul 09.23 WIB, rupiah berada di kisaran Rp4.298 per ringgit Malaysia atau melemah sekitar 0,53 persen. Posisi tersebut menjadi rekor terlemah rupiah terhadap mata uang Negeri Jiran dalam perdagangan intraday.

Pada saat yang sama, rupiah juga terdepresiasi terhadap dolar Singapura sebesar 0,33 persen ke level Rp13.325 per SGD, yang juga merupakan titik terlemah sepanjang pencatatan perdagangan harian.

Tren Pelemahan Berlanjut Sejak 2025

Tekanan terhadap rupiah bukanlah fenomena jangka pendek. Sepanjang tahun 2025, rupiah tercatat telah melemah sekitar 14,05 persen terhadap ringgit Malaysia dan turun sekitar 10 persen terhadap dolar Singapura.

Memasuki tahun 2026, tren depresiasi masih berlanjut. Secara year-to-date (ytd), rupiah telah melemah sekitar 2,83 persen terhadap dolar Singapura dan tertekan 4,82 persen terhadap ringgit Malaysia.

Permintaan Valas Regional Meningkat

Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan pelaku pasar terhadap mata uang regional tersebut. Permintaan ringgit dan dolar Singapura cenderung naik untuk berbagai keperluan, mulai dari transaksi perdagangan, pembayaran lintas negara, hingga penempatan dana dan investasi.

Kondisi tersebut menyebabkan kedua mata uang menguat secara relatif, sementara rupiah berada dalam tekanan akibat arus permintaan valas yang lebih tinggi dibandingkan pasokan di pasar domestik.

Faktor Eksternal dan Persepsi Pasar

Selain faktor permintaan regional, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi dinamika eksternal seperti penguatan mata uang kawasan, pergeseran aliran modal, serta strategi diversifikasi aset oleh pelaku pasar di Asia Tenggara.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar domestik semakin sensitif terhadap perubahan sentimen regional, bukan hanya terhadap dolar Amerika Serikat, tetapi juga mata uang negara mitra dagang utama.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: klikjambinew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA