Prabowo Ingatkan Risiko Ketergantungan Impor di Tengah Gejolak Global

waktu baca 2 menit
Selasa, 6 Jan 2026 21:50 55 Admin

 

KJN, Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto mengingatkan bahaya ketergantungan impor, khususnya di sektor pangan, di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik global yang berpotensi mengganggu rantai pasok internasional.

 

Peringatan tersebut disampaikan Prabowo saat Retret Jilid II Kabinet Merah Putih di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1).

 

Menurut Presiden, ketergantungan impor dari negara-negara yang tengah dilanda konflik dapat mengancam ketahanan pangan nasional apabila sewaktu-waktu jalur pasokan terganggu.

 

“Sekarang Thailand dan Kamboja perang terus. Setelah perang, negosiasi, gencatan senjata, damai, kemudian meletus lagi. Dalam keadaan seperti itu, bayangkan, amankah kita tergantung impor dari negara yang konflik?” ujar Prabowo dalam Taklimat Awal Tahun.

 

Ia mengingatkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya Indonesia masih mengimpor beras dari Thailand dan Kamboja untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, konflik berkepanjangan di antara kedua negara tersebut berpotensi mengganggu pasokan pangan jika ketergantungan impor terus berlanjut.

 

Selain konflik geopolitik, Presiden juga menyinggung pengalaman saat pandemi COVID-19, ketika sejumlah negara pengekspor pangan menutup keran ekspor guna mengamankan kebutuhan domestik masing-masing.

 

Kondisi itu, kata Prabowo, membuat banyak negara, termasuk Indonesia, kesulitan memperoleh pasokan pangan meskipun memiliki kemampuan finansial untuk membeli.

 

Oleh karena itu, Prabowo menegaskan bahwa kebijakan swasembada pangan yang saat ini dijalankan pemerintah merupakan langkah strategis dan relevan untuk menghadapi ketidakpastian global.

 

Ia menyebut swasembada pangan sebagai bagian dari strategi transformasi nasional yang disusun secara terukur, berbasis kajian jangka panjang, dan diarahkan untuk memperkuat kemandirian bangsa.

 

“Bangsa Indonesia harus mandiri. Bangsa Indonesia harus berdikari, dan di situ elemen utamanya adalah swasembada pangan. Tidak ada bangsa yang merdeka bilamana bangsa itu tidak bisa menjamin makan untuk rakyat,” tegas Presiden.

 

Lebih lanjut, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia telah mampu mengurangi risiko ketergantungan tersebut setelah berhasil mencapai swasembada pangan pada tahun lalu.

 

Capaian itu, menurut Presiden, tercermin dari cadangan beras pemerintah yang mencapai sekitar tiga juta ton per 31 Desember 2025.

 

“Saya juga cukup merasa besar hati dan bangga bahwa hari ini cadangan beras di gudang-gudang pemerintah Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah berdirinya Indonesia,” ujar Prabowo.

 

 

Editor: Redaksi KJN

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA