Jambi, KJ-News.com (15/02/2026) – Upaya pemerintah mempercepat pengembangan jagung pangan nasional dinilai membuka peluang besar bagi daerah sentra pertanian, termasuk Jambi, untuk meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani melalui hilirisasi komoditas strategis tersebut.
Program yang digagas Kementerian Pertanian menargetkan produksi jagung mencapai 18 juta ton pipilan kering pada 2026 sebagai bagian dari strategi swasembada pangan dan penguatan bahan baku industri dalam negeri.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemanfaatan jagung ke depan tidak lagi bertumpu pada sektor pakan ternak, tetapi diperluas untuk industri pangan guna meningkatkan nilai tambah dan stabilitas harga di tingkat petani.
Peluang Hilirisasi bagi Daerah
Kebijakan ini menjadi momentum bagi provinsi seperti Jambi yang memiliki lahan pertanian cukup luas dan berpotensi dikembangkan sebagai kawasan produksi jagung berbasis kemitraan industri.
Selain meningkatkan hasil panen, pengembangan jagung pangan juga mendorong terbentuknya rantai pasok baru, mulai dari penyediaan benih unggul, pengolahan pascapanen, hingga distribusi ke industri pati dan produk turunan.
Pemerintah menetapkan harga pembelian di tingkat produsen sebesar Rp5.500 per kilogram untuk menjaga kepastian usaha tani dan melindungi pendapatan petani dari fluktuasi pasar.
Produksi Nasional Naik, Daerah Didorong Perkuat Kontribusi
Secara nasional, produksi jagung pada triwulan pertama 2026 diproyeksikan mencapai hampir lima juta ton atau meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu. Dukungan stok nasional juga memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi tanpa impor.
Di sisi lain, kebutuhan jagung untuk industri pangan diperkirakan mencapai 450 ribu ton per tahun, sehingga daerah didorong menyesuaikan varietas tanam dengan kebutuhan industri, khususnya jagung berkadar pati tinggi.
Sinergi Petani dan Industri Jadi Kunci
Pemerintah terus memperkuat kemitraan antara petani dan sektor industri melalui pengembangan varietas unggul, pendampingan teknologi budidaya, serta jaminan serapan hasil panen.
Langkah hilirisasi ini diharapkan menjadikan jagung bukan hanya komoditas pangan dan pakan, tetapi juga sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
Bagi Jambi, kebijakan tersebut dapat menjadi peluang strategis untuk memperluas areal tanam, meningkatkan produktivitas, serta membuka lapangan usaha berbasis agroindustri yang berdampak langsung pada perekonomian masyarakat pedesaan.
Pemerintah optimistis penguatan produksi dan hilirisasi jagung akan menjadikan komoditas ini sebagai salah satu fondasi ketahanan pangan nasional sekaligus penggerak kesejahteraan petani di berbagai wilayah Indonesia.
Reporter: Ridho Saputra
Editor: M. Akbar
Media: klikjambinew.com
Tidak ada komentar