Harga Minyak Dunia Melejit hingga US$141 per Barel, Krisis Selat Hormuz Picu Lonjakan Global

waktu baca 2 menit
Jumat, 3 Apr 2026 07:06 23 Admin

Jambi, (KJ-News.com) – Harga minyak mentah dunia kembali melonjak tajam di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Lonjakan ini dipicu oleh terganggunya distribusi energi akibat penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak jenis Brent Crude Oil pada perdagangan Kamis ditutup di level US$109,28 per barel, naik signifikan 8,03 persen. Bahkan, pada pasar spot, harga sempat menembus US$141,36 per barel—level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate juga melonjak 11,41 persen ke posisi US$111,54 per barel, mencerminkan kekhawatiran serius pelaku pasar terhadap pasokan energi global.

Kenaikan tajam ini terjadi setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang berdampak langsung pada aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz. Jalur ini diketahui menyalurkan sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan gas dunia, sehingga gangguan sedikit saja dapat memicu gejolak besar di pasar energi.

Analis energi menilai, lonjakan harga di pasar spot mencerminkan kondisi nyata di lapangan yang jauh lebih ketat dibandingkan harga kontrak berjangka. Founder Energy Aspects, Amrita Sen, menyebut pasar finansial belum sepenuhnya mencerminkan krisis pasokan yang sebenarnya terjadi.

“Pasokan fisik saat ini sangat ketat, namun pasar futures seolah memberi gambaran situasi yang lebih stabil dari kenyataan,” ujarnya.

Pernyataan senada juga disampaikan CEO Chevron, Mike Wirth, yang menilai bahwa dampak nyata penutupan Selat Hormuz belum sepenuhnya tercermin dalam harga minyak global.

Situasi semakin memanas setelah Presiden Donald Trump memberikan sinyal kemungkinan aksi militer lanjutan terhadap Iran dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran investor akan konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu rantai pasok energi global.

Di sisi lain, laporan dari media Iran menyebut adanya upaya kerja sama antara Iran dan Oman untuk membuka kembali jalur distribusi dengan skema pengawasan bersama. Namun, hingga kini kepastian tersebut belum mampu meredam gejolak pasar.

Para analis menilai, jika ketegangan tidak segera mereda, dunia berpotensi menghadapi krisis energi yang lebih dalam, dengan dampak langsung pada kenaikan harga BBM, inflasi global, hingga perlambatan ekonomi di berbagai negara.

 

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: https://klikjambinew.com/

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA