Jakarta, KJ-News.com – Industri otomotif nasional memasuki tahun 2026 dengan optimisme yang tetap dibayangi ketidakpastian kebijakan insentif pemerintah. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menargetkan penjualan mobil tahun ini mencapai 850 ribu unit, atau tumbuh sekitar 5% dibanding realisasi 2025 yang berada di kisaran 803 ribu unit.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, mengatakan proyeksi tersebut disusun dengan pendekatan realistis di tengah dinamika ekonomi dan kebijakan fiskal yang belum sepenuhnya jelas.
“Kita pasang proyeksi 850 ribu unit dibanding 803 ribu tahun lalu. Naiknya sekitar 5% karena kita optimistis, tetapi tetap realistis,” ujar Jongkie dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta.
Insentif Fiskal Jadi Faktor Kunci
Menurut Jongkie, capaian target sangat bergantung pada arah kebijakan pemerintah, khususnya terkait insentif otomotif yang berpotensi mendorong daya beli masyarakat.
Ketidakjelasan keberlanjutan insentif membuat pelaku industri bersikap hati-hati dalam memproyeksikan pertumbuhan. Kebijakan fiskal yang mendukung dinilai mampu menjadi katalis percepatan penjualan, terutama di tengah tekanan daya beli dan persaingan kendaraan listrik.
Rasio Kepemilikan Mobil RI Masih Rendah
Di sisi lain, potensi pasar domestik Indonesia dinilai masih sangat besar. Dengan populasi sekitar 280 juta jiwa, rasio kepemilikan mobil di Indonesia baru mencapai sekitar 99 unit per 1.000 penduduk.
Angka tersebut jauh tertinggal dibanding Malaysia yang mencapai sekitar 450 unit per 1.000 penduduk dan Thailand sekitar 270 unit per 1.000 penduduk.
“Pasar Indonesia ini sangat potensial. Rasio mobil kita masih 99 per 1.000 orang, artinya ruang pertumbuhan masih sangat besar,” kata Jongkie.
Rendahnya rasio kepemilikan kendaraan menjadi daya tarik bagi investor otomotif global untuk memperluas investasi, termasuk pembangunan pabrik baru dan penguatan industri komponen dalam negeri.
Serap 1,5 Juta Tenaga Kerja
Gaikindo mencatat industri otomotif nasional menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja, baik di sektor perakitan kendaraan maupun industri komponen pendukung. Hal ini menjadikan otomotif sebagai salah satu sektor manufaktur strategis yang berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, keberlanjutan investasi dan ekspansi industri dinilai membutuhkan regulasi yang lebih ramah investor, terutama kepastian kebijakan jangka panjang serta kemudahan perizinan.
“Kita perlu regulasi yang lebih investor friendly supaya mereka yakin menanamkan modal di Indonesia,” tegasnya.
Momentum Transformasi Industri
Tahun 2026 dinilai menjadi fase konsolidasi sekaligus transformasi industri otomotif nasional, terutama dalam menghadapi percepatan elektrifikasi kendaraan dan perubahan preferensi konsumen.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, industri otomotif diyakini mampu menjaga pertumbuhan sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi otomotif di kawasan Asia Tenggara.
Reporter: Ridho Saputra
Editor: M. Akbar
Media: klikjambinew.com
Tidak ada komentar