Harga HP Terancam Naik Global, Samsung Berjuang Tahan Harga Galaxy S26

waktu baca 2 menit
Selasa, 27 Jan 2026 08:39 194 Admin

Jakarta, (KJ-News.com) – Harga ponsel pintar secara global terancam melonjak seiring kelangkaan chip memori yang semakin parah akibat lonjakan kebutuhan teknologi kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini memaksa produsen smartphone, termasuk Samsung, bekerja ekstra untuk menahan kenaikan harga pada lini flagship terbarunya, Galaxy S26 series, yang dijadwalkan meluncur dalam waktu dekat.

Permintaan chip memori meningkat signifikan sepanjang setahun terakhir, terutama untuk High Bandwidth Memory (HBM) dan DDR server, yang banyak diserap oleh raksasa teknologi global seperti Amazon, Google, Meta, Microsoft, Nvidia, hingga OpenAI. Dampaknya, produsen semikonduktor mengalihkan kapasitas produksi dari memori untuk laptop dan smartphone, sehingga pasokan menipis dan harga melonjak.

Di tengah tekanan tersebut, beredar rumor dari kalangan industri yang menyebutkan Samsung Galaxy S26 Ultra akan dibanderol US$1.399 atau sekitar Rp23,4 juta untuk pasar Amerika Serikat. Harga ini setara dengan Galaxy S20 Ultra saat peluncuran dan lebih mahal dibanding Galaxy S25 Ultra yang dipasarkan di kisaran US$1.299.

Namun, Samsung disebut masih berupaya menahan harga di bawah 2 juta won Korea (sekitar Rp23 juta) untuk pasar domestik Korea Selatan. Jika strategi ini berhasil, harga Galaxy S26 Ultra di AS berpotensi tetap di level US$1.299, sebagaimana dikutip dari SamMobile, Selasa (27/1/2026).

Untuk menekan harga jual, Samsung dikabarkan akan memangkas insentif pre-order, termasuk menghapus promo peningkatan kapasitas penyimpanan gratis serta mengurangi berbagai bonus pembelian awal yang selama ini menjadi daya tarik konsumen.

Lembaga riset International Data Corporation (IDC) sebelumnya telah memperingatkan bahwa industri smartphone global, khususnya ekosistem Android, akan menghadapi tekanan besar pada 2026. Tren menghadirkan fitur premium ke perangkat kelas menengah diprediksi berbalik arah akibat lonjakan biaya produksi.

IDC mencatat, komponen memori menyumbang 15–20% biaya produksi smartphone kelas menengah, dan sekitar 10–15% pada ponsel kelas atas. Produsen di segmen bawah dinilai paling rentan karena margin keuntungan yang tipis, sehingga kenaikan biaya hampir tak terelakkan untuk dibebankan ke konsumen.

Meski demikian, Samsung dan produsen flagship lainnya dinilai relatif lebih aman karena memiliki cadangan kas kuat serta kontrak pasokan jangka panjang, yang memungkinkan pengamanan stok memori hingga 12–24 bulan ke depan.

“Model unggulan 2026 kemungkinan tidak akan mengalami peningkatan RAM signifikan. Produsen cenderung mempertahankan RAM 12GB untuk model Pro ketimbang meningkatkannya ke 16GB,” ungkap IDC.

IDC juga memproyeksikan pasar smartphone global berpotensi menyusut 2,9%, bahkan hingga 5,2% dalam skenario pesimistis. Sementara itu, harga jual rata-rata smartphone diperkirakan naik 3–5% dalam skenario moderat dan 6–8% pada skenario terburuk, dengan dampak paling besar dirasakan di segmen harga terjangkau.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: klikjambinew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA