KJN – Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja di tengah perubahan lanskap ketenagakerjaan nasional dan global, termasuk disrupsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Hal tersebut disampaikan Menaker saat menghadiri Sidang Pleno Terbuka Majelis Wali Amanat Universitas Brawijaya (UB) di Kota Malang, Senin (5/1/2026).
Menurut Yassierli, tantangan dunia kerja saat ini semakin kompleks akibat pergeseran kebutuhan industri dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kompetensi yang harus dimiliki lulusan perguruan tinggi.
“Perguruan tinggi harus terus berbenah untuk menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Kita masih menghadapi persoalan mismatch antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja di Indonesia,” ujar Yassierli kepada wartawan.
Ia menegaskan, persoalan penyerapan tenaga kerja tidak dapat dibebankan kepada Kementerian Ketenagakerjaan semata, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Komunikasi dan Digital.
“Kami di Kabinet Merah Putih bekerja sebagai satu tim,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Kemnaker menjalankan program magang bagi 100 ribu lulusan perguruan tinggi per tahun, yang merupakan inisiatif Presiden Prabowo Subianto dan dilaksanakan melalui Kemnaker. Program magang berdurasi enam bulan ini bertujuan memberikan pengalaman dan paparan langsung terhadap dunia kerja.
“Antusiasmenya luar biasa. Program ini insya Allah akan terus berlanjut hingga 2026,” jelas Yassierli.
Terkait perkembangan AI, Menaker menilai teknologi tersebut akan membawa disrupsi signifikan, namun tidak sepenuhnya menggantikan peran manusia. Sebaliknya, AI justru membuka peluang munculnya jenis pekerjaan baru.
“AI melahirkan kebutuhan tenaga kerja baru yang kami sebut sebagai AI Digital Talent. Kami berharap kampus mampu merespons kebutuhan ini,” ujarnya.
Menaker juga menyinggung target penciptaan 19 juta lapangan kerja yang disusun berdasarkan data Kementerian Investasi. Meski secara tahunan terdapat sekitar dua juta penyerapan tenaga kerja baru, angka pengangguran dinilai masih menjadi tantangan serius.
“Lowongan kerja yang tersedia memang menyerap tenaga kerja formal dan informal, namun belum sepenuhnya mampu menjadi solusi besar bagi pengangguran,” katanya.
Terkait program magang, Yassierli menegaskan tidak ada klausul yang mewajibkan perusahaan langsung merekrut peserta setelah magang berakhir. Meski demikian, peluang tetap terbuka bagi peserta berprestasi.
“Tidak ada kewajiban perusahaan menerima, tetapi jika kinerjanya baik tentu ada peluang untuk diserap,” ujarnya.
Hingga kini, program magang telah berjalan dalam tiga batch dengan target 100 ribu peserta yang telah terpenuhi. Peserta tersebar di berbagai sektor industri, kementerian, dan instansi pemerintah, meski sebarannya masih perlu dioptimalkan.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kami untuk batch selanjutnya,” tutup Yassierli.
Editor: Redaksi KJN
Tidak ada komentar