Permintaan Sawit China Terancam Melemah, Pengusaha Indonesia Waspada Tekanan Harga Global

waktu baca 3 menit
Kamis, 12 Feb 2026 05:28 150 Admin

Jakarta, KJ-News.com – Prospek ekspor minyak sawit Indonesia menghadapi tantangan baru setelah China meningkatkan impor minyak nabati alternatif yang lebih murah, seperti minyak kedelai dan kanola. Kondisi ini berpotensi menekan permintaan minyak sawit sekaligus memengaruhi harga global komoditas tersebut.

China merupakan salah satu pasar terbesar minyak sawit dunia. Perubahan kebijakan impor dan dinamika harga di negara tersebut memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan harga sawit internasional.

Saat ini, China memperoleh pasokan minyak kedelai dan kanola dengan harga diskon. Kesepakatan dagang antara China dan Kanada membuka akses lebih luas terhadap minyak kanola dengan harga kompetitif. Selain itu, Beijing juga meningkatkan pembelian kanola dari Australia serta mengimpor minyak kedelai dalam volume besar.

Langkah ini dinilai dapat mengurangi ketergantungan China terhadap minyak sawit.

Seorang analis industri mengatakan China kini memiliki lebih banyak opsi minyak nabati dengan harga lebih murah, sehingga posisi tawar mereka semakin kuat dibandingkan pembeli utama lainnya seperti India.

“China tidak terlalu terdesak karena memiliki banyak pilihan. Mereka masih sangat memperhatikan harga di bursa Dalian,” ujar analis tersebut, dikutip dari Reuters menjelang konferensi industri di Kuala Lumpur.

Ekspor Malaysia Turun Tajam

Dampak perubahan permintaan China sudah mulai terlihat. Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) melaporkan ekspor sawit Malaysia ke China turun 35,7% sepanjang tahun lalu.

Meski demikian, Malaysia berpotensi mendapatkan keuntungan dari rencana kenaikan pungutan ekspor (levy) Indonesia yang dijadwalkan berlaku mulai Maret. Kenaikan levy tersebut dapat membuat harga sawit Indonesia relatif kurang kompetitif di pasar global.

Sementara itu, analis dari Indonesia memperkirakan harga minyak sawit tahun ini cenderung melemah akibat produksi sawit yang kuat serta tingginya output minyak kedelai global yang menekan pasar.

China Sangat Sensitif Terhadap Harga

China sangat bergantung pada impor minyak nabati—mulai dari sawit, kedelai, rapeseed/kanola hingga minyak bunga matahari—untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Ketergantungan ini membuat pasar China sangat sensitif terhadap fluktuasi harga global dan gangguan pasokan.

Meski minyak kedelai masih mendominasi sekitar 40% konsumsi minyak goreng China, penggunaan minyak sawit terus meningkat secara bertahap karena dinilai lebih murah, serbaguna, dan memiliki daya simpan lebih lama.

Namun, jika selisih harga semakin lebar akibat diskon kedelai dan kanola, permintaan sawit berisiko tergerus dalam jangka pendek.

Tekanan Harga Global Mengintai

Kombinasi meningkatnya pasokan minyak nabati alternatif, produksi global yang tinggi, serta potensi kebijakan fiskal ekspor Indonesia berpotensi menciptakan tekanan harga baru di pasar minyak sawit internasional.

Bagi pengusaha sawit Indonesia, perkembangan di China menjadi faktor krusial yang perlu dicermati dalam beberapa bulan ke depan.

 

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: klikjambinew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA