Tradisi Mantai Kerbau di Merangin, Warisan Leluhur yang Menyatukan Warga Sambut Ramadan

waktu baca 2 menit
Senin, 16 Feb 2026 08:10 126 Admin

Merangin, KJ-News.com (16/02/2026) – Tradisi adat Mantai Kerbau Basamo kembali digelar masyarakat di Kabupaten Merangin sebagai bentuk pelestarian warisan budaya turun-temurun yang sarat nilai kebersamaan, bukan sekadar kegiatan seremonial menjelang Ramadan.

Kegiatan yang dipusatkan di Desa Bukit Perentak, Kecamatan Pangkalan Jambu, menjadi momentum berkumpulnya masyarakat adat, tokoh kampung, dan generasi muda untuk menjaga tradisi yang telah hidup sejak lama dalam tatanan sosial masyarakat setempat.

Sebanyak 75 ekor kerbau yang berasal dari berbagai desa dipotong secara gotong royong. Dagingnya kemudian dibagikan dan dinikmati bersama sebagai simbol rezeki bersama, persaudaraan, serta persiapan menyambut bulan suci dengan hati yang bersih.

Bupati Merangin, M. Syukur, menegaskan bahwa Mantai Kerbau bukanlah pesta rakyat biasa, melainkan wujud nyata falsafah hidup masyarakat yang menjunjung tinggi musyawarah, kebersamaan, dan rasa syukur.

Menurutnya, nilai utama dari tradisi ini adalah memperkuat hubungan sosial antarsesama warga, sebagaimana pepatah adat “Bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat”, yang menggambarkan pentingnya persatuan dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan bermasyarakat.

“Adat Mantai ini adalah pusaka leluhur yang mengajarkan kita hidup rukun, saling berbagi, dan mempererat silaturahmi. Tradisi inilah yang menjaga kekuatan masyarakat hingga hari ini,” ujarnya di hadapan warga.

Warisan Budaya yang Mengandung Nilai Filosofis

Mantai Kerbau merupakan bagian dari kearifan lokal yang mengandung makna mendalam:

  • mempererat solidaritas antar-keluarga dan antar-desa,
  • menumbuhkan semangat gotong royong tanpa memandang status sosial,
  • menjadi pengingat bahwa hasil bumi dan rezeki harus disyukuri bersama,
  • serta menjaga hubungan harmonis antara adat, agama, dan kehidupan sosial.

Tradisi ini juga mencerminkan falsafah Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, yang menempatkan adat sebagai penuntun kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan.

Menjaga Identitas di Tengah Perubahan Zaman

Di tengah arus modernisasi, masyarakat Pangkalan Jambu tetap mempertahankan Mantai sebagai identitas budaya yang tidak boleh hilang. Tradisi ini menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal akar sejarah, tata nilai, dan etika kebersamaan yang diwariskan para leluhur.

Pemerintah daerah pun mendorong agar kegiatan adat seperti ini terus dilestarikan, karena selain memperkuat jati diri daerah, juga menjadi modal sosial dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berdaya.

Mantai Kerbau bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang merawat ingatan kolektif, memperkuat persaudaraan, dan memastikan nilai budaya tetap hidup—tidak lapuk oleh hujan, tidak lekang oleh panas.

 

 

Reporter: Ridho Saputra

Editor: M. Akbar

Media: klikjambinew.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA